Nio

bw

SESUDAH SETENGAH JAM MENUNGGU, akhirnya anak-anak Kampung Gambir menyembul keluar satu per satu dari mulut gang. Menyambut mereka, kami segera bergerak ke tengah lapangan. Herman Kiting memberi kode dengan telunjuk kanannya yang tak bisa lurus, mengatur posisi. Sarip, Kong An dan Mamat ditempatkan di depan. Ujang dan dia sendiri di tengah. Rudi yang berani menghadang dan Satria yang bongsor sebagai benteng ditaruh di belakang. Kiper, siapa lagi kalau bukan Agus – tinggi menjulang seperti Roni Paslah.

Dari sisi lain Wahyu melangkah cepat memasuki lapangan dan menghampiri Herman.

“Seperti biasa, Yu?” tanya Herman Kiting.

Wahyu dari Kampung Gambir tersenyum menantang. “Seperti janji kita minggu lalu. Singkong bakar buat yang menang, Ting,” katanya penuh percaya diri.

Dan bola karet mulai bergulir di tengah lapangan. Berpindah dari satu kaki ke kaki yang lain. Kadang melambung jauh menerjang langit. Sesekali melesat terbang ke arah gawang. Tak peduli terik siang menghanguskan kulit dan rakus mengisap semua cairan tubuh, anak-anak berebut benda bulat itu. Tanpa wasit. Tanpa garis-garis batas arena. Lapangannya adalah lahan kosong berbatas kerumun pohon pisang, gerumbul perdu bunga-bunga liar dan tembok bata merah berdiri tinggi. Bukan perkara taruhan singkong bakar sebenarnya, ini lebih ke harga diri, marwah kelompok. Dua pertandingan sebelumnya anak-anak Kampung Mulya selalu kalah. Dan pecundang harus menderita kehinaan dan hukuman. Kali ini dalam bentuk mencuri singkong dari kebun di balik tembok bata merah tinggi tebal pembatas kampung, membakarnya hingga empuk dan menyerahkannya kepada anak-anak Kampung Gambir.

Dan pertandingan siang ini jauh dari harapan. Agus bermain dengan tidak bagus. Gawangnya kebobolan dua kali tanpa balas. Kapten Herman Kiting merasa paling sial. Mencari pemain pengganti di tepi lapangan. Hanya ada Ade yang selalu lebih suka menyiapkan seteko air minum dan menyemangati dari tepi. Agun memilih duduk menonton di bawah hijau tandan daun-daun pohon pisang yang saling berpegangan membentuk payung. Tiga anak Kampung Gambir berteduh di sekitar kibar kain-kain jemuran. Beberapa bocah kecil berlarian mengejar sepasukan capung yang melayang memutar spiral di atas kepala mereka. Atau memunguti kepik-kepik merah bintik oranye yang merayapi kelopak bunga liar atau sembunyi di sela ketiak tangkai – dan menjebloskannya ke dalam kantung plastik.

Akhirnya dengan raut tak rela Herman Kiting melempar pandangan ke arahku.

“Nan, kamu ganti si Agus,” katanya. Tatapannya meremehkan.

Meski begitu tak surut semangatku untuk bermain, menjaga gawang menggantikan Agus. Sejak tadi aku memang tak sabar ingin menyilih Agus yang gempal, lamban dan kelelahan.

“Hio, kamu bisa cedera nanti,” seringai Wahyu ke mukaku. Teman-temannya juga terkekeh menertawakan. Tak bisa kubalas dengan apapun selain senyum tipis. Wahyu tak boleh menyepelekanku. “Mata kamu terlalu kecil. Kamu takkan bisa jeli melihat datangnya bola.”

“Mata sipit bisa melihat dengan lebih tajam, Yu,” balasku.

Wahyu menoleh ke arah Herman Kiting. Dibalas Kiting dengan kibasan tangannya.

Aku bisa diandalkan, sungguh. Aku lebih jangkung dari mereka. Melompat dan terbang beberapa kali untuk menangkap bola yang menyerbu gawang. Mukaku pasti merah putih, berlumur peluh. Apalagi matahari kemarau di langit biru bersih seperti ingin merebus semua cairan tubuh. Toh, sampai akhir permainan tak ada bola yang menerobos ke wilayahku, dengan dua tumpukan batu dan brangkal bangunan sebagai tengara. Namun, tak satu gol pun bisa disarangkan oleh Kiting, Sarip maupun teman-teman lainnya.

Kami menyerah.

Memalukan.

Dan setengah jam kemudian kami pun memanjat tembok bata merah setinggi tiga meter. Tembok yang biasa kami sebut kuta. Yang dibangun entah berapa ratus tahun yang lalu. Mencari bagian yang retak, tumpukan bata merah pembentuknya merapuh, berguguran, bergeser dan membuat rekahan besar. Berpilin sulur-sulur akar pohon tua. Meniti batuan itu dengan lincah dan mencapai bagian atasnya yang selebar satu meter. Kami harus berhati-hati melangkah berbaris meniti jalur tembok bata merah, sesekali melompati hiasan rumputan, atau ilalang liar dan perdu berduri tajam. Jam dua siang adalah waktu yang tepat, tak satu pun penjaga yang bakal memergoki kami. Meskipun tengah hari terbilang sungil.

Oh ya, Satria tidak ikut bergabung. Sebagai bagian dari kerabat dalem agung, tentu tak elok kalau dia ikut mencuri.

Setelah seratusan langkah, kami harus menikung mengikuti percabangan tembok kemudian mencari lagi bagian kuta yang tak lagi utuh, rontok susunan batanya dan bisa menjadi undakan turun, kemudian menjejaki dalem agung. Turun ke bagian lahan yang ditumbuhi singkong. Kebun milik para abdi dalem atau malah keluarga elang, aku tidak tahu pasti. Anak-anak menyebar, memilih tanaman yang paling subur dan mencabut pangkal-pangkalnya yang menjelma umbi-umbian. Tanahnya garing membatu. Mereka harus mengencingi dulu tanah itu sebelum merenggut kuat-kuat umbi singkongnya. Herman dan Ade mencari beberapa dahan patah dan ranting garing, juga klaras, daun pisang yang sudah koyak, coklat dan layu. Mamat melemparkan blarak, pelepah dan pita-pita daun kelapa kering. Kupilih tempat dalam bayang pohon sawo kecik, mengonggok semua bahan bakar, berlingkar batu-batu besar dari sekitar. Kiting mengangsurkan sekotak korek api, dengannya aku membuat unggun, menyiapkan bara.

Yang membuat kami terhina adalah semua singkong bakar hangat harum mempur sekualitas roti dari toko di Pasar Kanoman itu tak sekerat pun boleh kami makan. Semuanya menjadi jatah tim Wahyu, sang pemenang hari ini. Susah payah aku mengembus-embus bara agar tetap memerah, bersama Sarip lelah mengatur ranting, mengipasi dengan daun waru, dibantu Ade membolak-balik potongan singkong di atas bara, tak pelak mata menjadi pedih kelilipan memerah.

Dan tak bosannya Wahyu menggodaku.

“Hio, untunglah ada kamu. Kalau tak ada kamu, singkong kami tak akan matang sempurna.”

“Kapan kamu akan berhenti memanggilku Hio, Yu?” tanyaku bersungut.

“Sampai kamu tak berbau hio,” jawabnya ringan.

“Kalau bukan di dalem agung, aku pasti sudah memaki kamu,”

“Tak baik anak perawan memaki-maki,”

“Biarkan saja, Nan.” ucap Herman Kiting menghiburku. “Dia kan cuma iri dengan nilai ulangan kamu. Kamu kalahkan dia bulan kemarin.”

“Kamu boleh memanggilku Hio atau apa saja, dengan syarat kamu bisa mengatasi nilai-nilai ulanganku,” sahutku menantang.

Kali ini Wahyu mendadak terdiam. Herman Kiting terbahak. Kami memang sekelas di SMP. Sejak sama-sama di SD Wahyu gemar mengejekku dengan sebutan Hio, sedangkan Herman menamaiku Nani. Padahal di rumah Mamah memanggilku Nina. Papah memanggilku Tina. Adikku menyebutku Ci Ni. Sampul depan raporku bertuliskan Tinawati.

Ternyata singkong bakar tak semuanya habis mereka makan. Kami para pecundang kebagian juga menggerogoti roti bersumbu yang luarnya gosong hitam itu. Sampai tangan kami coreng-moreng dan bibir dan mulut kami berbedak jelaga hingga ke pipi-pipi. Herman, Wahyu dan seorang lainnya diam-diam mulai merokok. Ada juga yang rebahan beralas rumputan kuning kering di bawah waru.

Dan kemudian Rudi muncul memamerkan jala. Entah dari mana. Dan tanpa dikomando anak-anak berhamburan menuju balong yang ada di sisi lain wilayah berbatas tembok tua bata merah ini. Melewati lubang berupa gerbang kuta yang atasnya melengkung sempurna, melintasi jajaran pohon sawo raksasa rimbun daun, anak-anak lari bersicepat mencapai balong-balong. Di sebelah selatan memang terhampar beberapa balong, satu luas dan beberapa yang lain lebih sempit. Malam sehabis hujan pencuri ikan sesekali menjala ikan di balong ini, betok, kancra dan kalau sedang untung ada pula anak ikan mas.

Bayangkan, berendam pada cuaca yang mendidih menjelang asar. Menghibahkan semua penderitaan panas kulminasi matahari kepada permukaan air keperakan yang bergerak tenang tapi merayu-rayu. Inilah surga yang sesungguhnya. Abaikan sepasang kerbau bule yang malas berkubang di ujung timur. Di balong seluas tiga kali lapangan voli itu anak-anak Kampung Mulya berenang. Sebenarnya lebih mirip menyusup ke dalam lumpur. Airnya tak sampai menyentuh pinggang kami. Bersumber dari mata air kecil di ketinggian bukit, balong-balong itu menjebak airnya, menggenang dan lantas menghitam. Keruh tanah dan pasir, berdekor keluarga kangkung liar, alang-alang tinggi dan tanaman rambat lainnya. Baunya, hmm, bayangkan saja.

Anak-anak bermain air dengan sukacita. Tanpa baju. Tanpa kaos. Bahkan sebagian mereka polos telanjang dengan titit menggantung. Terjun dari ketinggian pematang. Saling sembur, mendorong jatuh teman yang lengah ke dalam air, berlomba meluncur, berperang seperti marinir, mengejek sekenyangnya. Kemewahan luar biasa. Keriangan tak tergantikan.

Aku tentu saja tak mungkin menganggu kemerdekaan mereka. Memilih duduk memeluk betis di tanah yang membukit di sebelah barat balong. Bukit kecil sepantar pohon kelapa yang kami sebut Gunung Indrakila. Bukit teduh beringin tua. Udara sore menggiringku pada lezat berbaring di atas batu hitam besar datar sepanjang tubuh manusia dan posisinya searah orang Islam kalau mereka sedang sembahyang. Menikmati sendratari kupu-kupu, capung-capung dan pucuk daun luruh. Berangsur lena diayun angin siang. Dibuai gemulai udara wangi pohonan. Senandung anak-anak kutilang. Dalam rangkum dekapan beringin raksasa. Aku pulas lenyap tertidur.

Tak sering aku mendapatkan mimpi dalam tidur. Apalagi tidur siang di tempat terbuka seperti Gunung Indrakila ini. Tapi sungguh, ini mimpi yang tak biasa. Sepertinya hari tahun baru Imlek. Ada lampion-lampion merah. Meja persembahan. Makanan, kue, buah-buahan. Lilin merah pada kedua sisi meja. Dan lidi-lidi hio ujungnya terbakar asapnya harum mengepul ke udara. Kemeriahan keluarga setiap awal tahun. Dalam mimpi itu aku didatangi orang-orang yang fotonya hitam putihnya ada di depan meja persembahan di rumah kami. Leluhur Papah dan Mamah. Engkong Ong dan mungkin istrinya. Anehnya mereka bergabung dengan orang-orang berpakaian keraton, serba kain dan tutup kepala bendo, blangkon khas cerbonan. Mimpi yang misteri. Aku menjura gong xi. Hangat mereka menyambutku. Engkong meraih kepalaku dan mengusapi mukaku beberapa kali. Menyebut namaku beberapa kali. Dengan lengkap. Perempuan yang mungkin istrinya juga melakukan hal yang sama.

Terbangun ketika indera telingaku menangkap kacau teriakan anak-anak. Ada kegaduhan. Ada kepanikan. Apa yang kulewatkan? Herman Kiting tengah sibuk tak jelas di tengah balong. Berdiri, menunjuk-nunjuk ke berbagai arah, mengatur anak-anak. Marah, sedih dan bingung terpancar dari mukanya. Aku terperanjat tentu saja.

“Rudi hilang, Nan,” bisik Kiting dengan resah. Menunjuk ke paras air yang mengeruh.

Tidak mungkin. Mana mungkin Rudi hilang ditelan balong dangkal berlumpur ini. Sudah dicari ke tempat lain? Atau sudah pulang lebih dulu? Terbata Kiting menjawab beberapa pertanyaanku. Rudi raib. Sirna begitu saja. Tanpa sebab. Belum pernah Kiting segelisah dan selinglung ini.

Anak-anak memanggil-manggil Rudi ke setiap penjuru, tangan-tangan mengubek balong sambil membisikkan nama Rudi, kaki-kaki mencari menyasar ke dasar balong, potongan bambu dan patahan ranting menusuki tiap bagian yang merelung gelap tersembunyi. Hanya menemukan bongkah batu berlumut, lubang bekas kadal berkawin, kayu-kayu busuk, ikan-ikan mabuk. Dan lumpur.

Kegelisahan terus berpendar, menular dan memuncak. Mereka mulai menangis putus asa. Ada jalar aroma ketakutan. Memasuki dalem agung pada siang bolong sudah salah besar. Apalagi mencuri umbi-umbi singkong. Apalagi mencari ikan dan berenang pada jam-jam sungil. Mengharap bantuan kepada orang dari kampung sebelah, mustahil, sama saja dengan menyerahkan diri. Lapor kepada penjaga dalem agung sama sekali bukan pilihan. Mengutus salah satu ke kampung kami juga tak mungkin, kecuali menimbulkan kegemparan.

Herman Kiting, sang pemimpin memandang ke arahku dengan pasrah, buntu pikirannya. Menggeleng-geleng wajah memelas sambil berjalan lemas ke arahku. Bukan sekedar karena jemari tangannya kiting dia dianggap pemimpin. Saat ini Kiting sedang diuji – dan hampir-hampir menyerah.

Entah atas bisikan siapa, aku melangkah satu-satu menuruni pematang, memasuki balong yang mengelam. Herman menunjuk ke satu titik, bagian tengah balong yang pekat. Di sini terakhir Rudi terlihat. Aku berjongkok di bagian itu. Memejamkan mata. Entah atas bisikan siapa. Dalam diam kurapalkan nama temanku Rudi. Mulutku tak mau berhenti, terus bergerak. Telapak tangan kananku menepuk air balong dengan khidmat, meniupkan nama Rudi, mengusap paras air dengan sepenuh harap. Beberapa kali. Semua berjalan begitu saja. Tanpa sedikit pun mengerti apa yang kulakukan.

Dan tak menunggu lama. Dari tepian balong Ade berseru kencang, hampir histeris. Tangannya menunjuk-nunjuk. Rudi! Itu Rudi!

Benar, sesosok tubuh muncul. Mengapung di dekat kaki Kiting. Mula-mula ujung jemari kakinya, kemudian tungkai-tungkai kaki, berangsur badannya. Berselendang daunan busuk dan lumuran lumpur hitam. Lalu lebih meyakinkan lagi, kepalanya. Rudi mengambang di atas permukaan air yang butek. Seperti gedebog pisang. Kiting melirikku tak percaya. Jangankan Kiting, aku sendiri pun dicekam ketidakpercayaan.

Dalam denyut-denyut ketakjuban Rudi diangkat dari air dan dengan seksama dipindahkan ke tepian. Kuyup. Air mengucur-ngucur. Cemong hitam coklat. Dan tak bernapas. Seperti mati. Bangkai.

Anak-anak merubung.

“Man, kita harus bawa Rudi pulang secepatnya,” Sarip memberikan saran.

“Iya, betul. Biar saja orang-orang kampung marah kepada kita.”

“Yang penting Rudi dapat ditolong.”

Semua menunggu perintah Kiting. Tapi Rudi terlalu lama tenggelam ke dasar balong. Mukanya pucat. Sangat putih. Napasnya nyaris tak terlihat. Nadinya lemah dan hilang. Badannya membiru. Kulitnya mengeriput. Matanya mengatup, tak ada reaksi. Rudi tak bergerak. Bergetar pun tidak. Anak-anak mulai menangis ngeri.

Kiting juga ketakutan. Tatapannya bagai hunus silet mengirisku. Tangan kanannya mencengkeram lenganku dengan kuat. Seperti meminta. Bahkan memohon. Seperti mengirimkan isyarat samar kepadaku. Dan bagai kerbau dicocok hidung aku pun terduduk di dekat kepala Rudi. Impian barusan kembali merasuki kepalaku, merenggut keinsafanku. Mataku memejam. Setengah sadar, aku memanggili lagi nama Rudi. Mewirid nama Rudi. Mengusap muka Rudi beberapa kali. Mengajaknya datang mendekat, menghadirkannya, mengundangnya pulang.

Dan Rudi terbatuk. Siuman.

Tepian balong meriah oleh sorak kegirangan. Kelegaan terbit pada wajah Kiting. Butuh jeda cukup lama bagi Rudi untuk mengenali wajah-wajah yang mengepungnya. Sesudah kesadarannya terkumpul sempurna, dengan hati-hati Rudi dipapah meninggalkan tepian balong. Semua bergerak lambat-lambat meninggalkan dalem agung. Memanjat kuta, tembok bata merah. Kali ini tak ada yang mengeluarkan suara. Menyusuri bagian atas tembok itu sepanjang delapan puluh meteran. Hampir tak ada yang berbicara. Menemukan pijakan menurun. Hati-hati berjingkat pada bagian retakan tembok bata merah. Menuju kampung kami.

 Aku harus berpegangan pada Herman karena tiba-tiba merasa kelelahan.

“Hei, Nan,” bisiknya. “Dari mana kamu belajar bahasa keraton tadi?”

Aku terkejut, tak mengerti. “Maksudmu?”

“Sewaktu menepuk air balong mulut kamu komat-kamit, meracau, seperti kerasukan. Bahasa orang-orang keraton,”

“Aku tidak ingat.” Kepalaku berdenyut-denyut.

Herman menahan langkahku.

“Lalu, tadi. Waktu mengusap muka Rudi, kamu mengoceh kalimat yang sama. Berulang-ulang. Seperti dzikir.“

“Aku tidak tahu. Tidak ingat, Man.” Langit seperti berpusing.

“Tapi ditambahi bahasa Cina. Makin aneh.”

“Aku ti-dak ta-hu, Maan.”

“Tadi kutanya Kong An, dia tak mengerti kalimat kamu.”

Persendianku terasa berlepasan.

Herman Kiting menggeleng-geleng.

“Tapi, minimal aku tahu nama kamu sekarang,” kata Herman lagi.

Aku merandek. Kepalaku. Bintang-bintang dalam pandanganku.

“Tadi kamu meracau dan menyebut-nyebut nama itu.”

“Aku tidak ingat.” Duh, Gusti, paringana kuwat.

“Namamu Ong Tien Nio.”

“Man….”

Belum sampai ke Kampung Mulya, aku jatuh terkulai. Lelah sangat. Habis tenaga. Luruh. Hilang daya. Semaput. Pingsan. Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku tidak mampu mengingatnya. Satu saja yang aku ingat: namaku. Nama yang disebut leluhurku dalam mimpi tadi.

Ya, sekarang aku tahu namaku.

***

 

 

Januari 2019

Iklan

Malam Tahun Baru

terpaksa kugali sendiri
lubang kuburku
dua malaikat nampak tak sabar
menunggu

di kejauhan kembang api,
kembang api

ROMEO & JULIET

Mata Romeo Montague berkilauan. Disana seperti ada buli-buli berisi bintang yang pecah dan membuat isinya berhamburan. Barulah Juliet menyadari, dadanya serta berdeburan. Pada suatu hari ia akan mati untuk pemuda ini!

Tapi balkon taman mendadak membisu. Lampu-lampu meredup sendu ketika Romeo, Si Pada-suatu-hari-ia-akan-mati-untuk-pemuda-ini itu mengemukakan maksudnya. Dengar, Nona. Bintang-bintang di mataku bersinar untuk langit seseorang lain. Langit Rosaline. Ujarnya. Dan lihat bagaimana lidahnya semesra itu melafalkan Rosaline. Roh-sah-liiin. Seperti ia sedang menjilat eskrim vanila siram coklat Belgia leleh yang diambengnya dari kedai bertudung warna-warni sepanjang sungai Adige, atau mengulum permen jahe yang digulali sampai kalis di dapur Bibi Aegle. Juliet memaki sepupunya atas keberuntungannya itu. Montague dan Capulet berseteru sepanjang putaran dunia, enak saja dia kejatuhan cinta seorang pemuda tampan meski murung seperti yang sedang berdiri di hadapannya. Tampan, tapi musuh keluarga.

Kata musuh itu terasa seksi dalam kepalanya. Tak ayal ia mengirimkan gestur lembut di luar kendali, mengedikkan bahunya yang telanjang, membuat hangat meruap hingga nyaris menciptakan uap halus di ujung hidungnya yang lembut dan muda.

Gerakan itu membuat efek mabuk akan Rosaline sedikit memudar pada diri Romeo. Ada makhluk ramping lain yang menyandang nama Capulet di rangkuman matanya. Tidak seluruhnya terbuka. Matanya yang badam sembunyi di balik topeng merak hitam-perak-kehijauan yang berkilap-kilap. Romeo hanya mampu mengira-ngira gerangan kerut yang terbentuk di sudut-sudut mata itu mestilah menggemaskan ketika si pemilik menarik bibirnya.

Sihir itu bertahan tidak lama. Dua orang pengasuh Juliet menyeruak di antara mereka. Oh, disini rupanya kau, Dear. Jangan kebanyakan berada diluar, angin sedang senang berlaku kasar. Kata Bibi Pertama. Dan, kata Bibi Kedua, ia bukan cuma akan mengacau hiasan rambutmu, mencubiti pundakmu, tapi juga berdiam di dalam hulu perutmu, menyakitimu dari sana.

Usai berkata begitu mereka menggesa ke berbagai sudut lain, mencari gadis-gadis Capulet lain yang berlindung dengan kekasih-kekasih mereka di balik rerimbunan pohonan atau bayang-bayang tiang-tiang dan ceruk air mancur mahabesar di tengah taman lalu menggiring mereka masuk untuk bersiap mengakhiri pesta dansa malam itu.

Juliet bergeming. Otaknya tumpul didera kekaguman pada pemuda di hadapannya. Dan kemudian alam mengirim jentik api paling naluriah pada tubuhnya. Ia mendekatkan mulutnya pada telinga Romeo, menyentuhkannya sekilas dengan kelembutan murni sambil membisik kita pasti akan bertemu lagi, selepas itu ia bergegas dengan langkah ringan memasuki pintu raksasa berpegangan besi tempa berukir rumit dan berlapis kaca mozaik lalu lenyap kedalamnya.

Rosaline pun padam untuk Romeo. Langit baru terpentang. Wangi bunga-bungaan agung yang barusan menghampiri hidungnya mengimbau minta dicumbu. Bibir yang menggelisir lumer di daun telinganya menjelmakan renjana yang selama ini dicarinya. Dan tubuh Romeo getas segetas patung Aphrodite tempat ia menyandarkan dirinya agar tidak limbung. Sebentar lagi aku hancur, batinnya. Tapi tidak sebelum aku bertemu lagi dengannya. Aku yakin, pada suatu hari nanti aku akan mati untuk gadis ini!

***

Musabab kemurungan Romeo sudah diketahui Mercutio. Karibnya itu sudah mendengar kabar bahwa keluarga Capulet masih tak jera menabuh genderang peperangan dengan keluarga Montague. Bahkan sekarang mereka mengutus Tybalt untuk memanaskan tungku.

Perkara berkelahi bukan sesuatu yang merisaukan untuk Romeo. Mercutio tahu itu. Tapi perseteruan yang kejam, yang memakan banyak korban dari paman-pamannya, keponakan-keponakannya, sahabat-sahabatnya. Semua kesia-siaan itu bukan kehendaknya, sama sekali bukan kehendak Romeo yang berbahan dasar lembut hati dan pemikir. Ia lihai membekaskan pistol, memainkan pisau, mengayun kelewang, meracik obat atau menakar racun, tapi ia sebenar-benarnya mengidamkan perdamaian. Bisnis keluarga yang berseberangan, persaingan kotor di berbagai pasar modal, betapa itu semua membuat Romeo sebal.

Montague dan Capulet adalah dua keluarga yang sama keras kepalanya. Penghalalan segala cara pun dilakukan agar yang satu selalu ingin nampak lebih unggul dibanding lainnya. Bayi-bayi lahir dengan beban berat di pundak mereka, menyandang nama besar Montague dan Capulet, yang berarti harus sedia berada di pihak yang bertentangan, saling mencari cara untuk melemahkan lawannya.

Maka jangan salahkan Mercutio ketika surat tantangan dari Tybalt itu sampai ke tangannya, ia tidak meneruskannya pada Romeo. Tybalt ingin mereka berdua bertemu dan saling membunuh. Habis perkara. Jenderal Capulet itu berkeinginan menghabisi Romeo demi kemasyhurannya sendiri. Nama baik keluarga Capulet ada di urutan kesekian, yang utama adalah bayangan keberhasilan mengalahkan Romeo yang akan melembungkan namanya. Sayang, bukan Si Anak Kebanggaan Montague yang ditemuinya di tempat perjanjian yang tertera, sebuah bengkel bekas di pinggiran kota, tapi seorang pemuda berwajah kemerahan, penuh semangat, dengan napas yang berderak-derak. Mercutio.

Pertarungan mereka tidak seimbang. Tybalt mempersiapkan dirinya lebih lama sehingga kepiawaiannya menyakiti lawan lebih meyakinkan. Mercutio maju lebih berdasar pada rasa kekawanan. Setengah jam kemudian, Tybalt keluar mengendarai Ford-nya dengan wajah lempang. Sebilah belati tergolek di jok belakang mobilnya. Berlumur darah. Darah Mercutio yang sedang meregang nyawa di lantai berdebu bengkel lapuk Esta Faith, Amanah Dari Timur, dengan empat luka tikam dalam di dada kirinya.

***

Romeo yang patah.

Mercutio adalah semacam dian dalam dadanya. Tawanya yang menguik serak seperti anak anjing acapkali menghangatkan harinya yang kesepian. Sikapnya yang slebor memberi warna dalam kekakuan aturan keluarga bangsawan yang menaungi kehidupan mereka. Mercutio, dengan segala kenaifan yang ada pada dirinya, adalah penerang kekelaman hubungan Montague-Capulet tempat Romeo berkubang selama ini.

Dikenangnya sobat kecilnya itu dalam dendam yang rekah seperti kelopak amaryllis di musim penghujan. Segenap kebencian membuncah pada keluarga musuhnya itu. Pada Si Tua Lord Capulet. Pada Rosaline. Pada gadis semampai memabukkan tempo hari yang ditemuinya di pesta. Pada semua manusia yang mencantumkan Capulet sebagai nama belakangnya. Terutama pada Tybalt, yang telah memantik nyala dendam paling kejam yang bersemayam di dalam kalbunya.

Romeo pun menangis untuk pertama kali yang bisa diingatnya. Airmatanya berguguran seperti batuan kalsit di pegunungan Verona yang dihembus badai salju berkepanjangan. Mercutio harus dibayar.

Dan tidak butuh lama kemudian baginya untuk menyaksikan Tybalt Capulet terkapar memohon-mohon untuk cabikan nyawanya yang terakhir, sementara mana mungkin Romeo meluluskannya. Empat tikaman belati. Membelesak dalam di dada sebelah kiri. Kesakitan yang sama persis seperti yang diemban Mercutio. Dan semua berakhir.

Gerimis turun membasuh pelita di mata Romeo. Mata itu menggelenyar sebentar, lalu membatu dingin seperti mausoleum malaikat bersayap yang dipancang di atas tanah merah kubur segar Mercutio. Mercutio yang setia.

***

Juliet memandang nanar pada pigura yang berkepingan di kakinya. Wajah gadis muda berambut ikal panjang dengan kelopak mata besar seperti buah badam memandang tajam padanya dari balik pecahan kaca. Potret dirinya ketika tepat berusia tigabelas, pesta dansa terakhir dalam sebulan yang telah mempertemukannya dengan pemuda murung menawan yang telah mencuri hatinya.

Ia seorang Montague, batinnya. Berulang-ulang. Tapi jatuh cinta tidak membuat lunas utang peperangan kedua keluarga. Demikian juga perseteruan abadi tidak bisa menghalangi ruhnya terbang menemui sang pemuda. Kematian Mercutio membawa Romeo yang murka kembali padanya. Disusul balas dengan kematian Tybalt yang makin membuat mereka saling melibat dan tak hendak lagi ingin melepaskan diri. Mereka berkasih dalam jalinan paling muskil, dalam bara yang membuat detik-detik percintaan mereka mencapai titik didih paling tinggi.

Cinta terlarang telah membukakan ruang-ruang tertutup rapat di antara mereka berdua.

Lamunan Juliet terputus. Ayahnya, Lord Capulet, telah berdiri di hadapannya. Selembar surat terbuka bersegel resmi terkulai di tangannya.

Dari Count Paris. Juliet menahan napasnya. Lord Capulet menghela napasnya. Ia memintamu menjadi istrinya. Ia memerintahmu menjadi istrinya.

***

Ditimangnya botol mungil bertutup kayu gabus itu di telapak tangannya. Empatpuluh dua jam saja, gumamnya lebih terdengar seperti menabahkan hati. Hanya empatpuluh dua jam gadis cantikku akan terbaring seperti mati, selewat itu ia akan bangkit lagi dan bertemu kekasihnya. Mereka akan mengasingkan diri ke sebuah desa di pelosok antah-berantah, beranak-pinak, memelihara domba, dan hidup bahagia selamanya.

Setidaknya itu yang terlintas di benak Bapa Lawrence ketika menyaksikan Juliet terpekur sambil berlinangan airmata. Maka dengan mata yang kuyup juga ia menyelipkan botol kecil itu kedalam jemari Juliet yang menguncup, meremasnya dengan resah, dan mulutnya komat-kamit memberkati gadis itu untuk kesekian kalinya. Ah, gadis cantikku yang malang, Tuhan bersamamu, sekarang atau nanti, Dia akan selalu bersamamu.

***

Ternyata menempeleng Balthasar tidak memperingan penderitaannya.

Pembantunya itu datang dengan dua berita yang menghantamnya laksana palu godam raksasa. Dunianya runtuh tak memiliki penyangga. Gulita sekitar, percuma menggapai. Segala pegangan menjauh dan hilang. Romeo terpuruk. Jurang gelap menganga menelan tubuhnya, mimpinya, cintanya.

Lord Capulet telah mengumumkan pesta pernikahan Juliet dengan Count Paris. Pukulan pertama.

Juliet sudah meninggal dunia. Tepat di malam menjelang pesta pernikahan keesokan harinya. Jasadnya terbaring kaku, tidak ada lagi detak jantung di dadanya yang busung indah. Tidak ada lagi napas yang mengembun di cermin yang di dekatkan ke hidungnya yang nampak tidak berdosa. Pukulan kedua.

Apakah aku cuma bermimpi, Balthasar? Cetusnya. Liar matanya berpindah-pindah menatapi ruang keluarga Montague yang megah. Ruang keluarga yang diakrabinya dari kecil mengapa sekarang sedemikian asing. Kepala singa menyeringai di atas perapian. Tombak-tombak berjejeran di dinding kayu ek berlapis pelitur mahal. Karpet-karpet persia tebal menggelar, mengisi ruang tapi mencipta kekosongan. Deretan minuman yang dipajang di rak bulat, meja-meja pualam, lampu-lampu kristal, kursi-kursi berlengan. Semuanya memandang hampa pada Romeo yang serupa kehilangan akal.

Sambil mengusap-usap pipinya yang masih panas Balthasar menggeleng. Tidak. Tidak. Kau tidak sedang bermimpi, Tuan Muda. Aku bukan cuma mendengar, aku melihat dengan mata-kepalaku sendiri, Nona dari Capulet itu sudah tidak bernapas lagi.

Romeo menggertakkan rahangnya. Hari kematianku pun telah tiba.

***

Dijatuhkannya tubuhnya disamping kekasihnya yang kini tertidur panjang. Keabadian membuat air muka Juliet tenang tiada beriak. Bibir yang semula membisik mesra itu kini pias mengatup. Kata-kata manisnya sirna seperti berkas-berkas matahari ditutup gerhana. Jemari yang biasanya gemetar dalam genggamannya itu kini layu, tiada kehidupan lagi yang mengalir di setiap pembuluhnya.

Romeo meraup botol kecil lain dari kantung baju di dadanya. Memandanginya dengan takjub, seakan-akan isi botol itu akan mampu membebaskannya dari penderitaan dunia. Ya. Demikianlah adanya. Cairan bening di dalamnya menggenang, tak berbau apapun ketika dihidu. Hanya ia bergetar sebentar ketika Romeo mengangkatnya ke mulutnya dan menenggaknya. Tandas. Tak bersisa.

Tangan Juliet yang sudah dingin dan tangan Romeo yang masih hangat, berpagut.

Kekasihku, jika bersamamu, begini rupa nikmatnya menjemput maut.

***

Empatpuluh dua jam.

Juliet menangis tanpa airmata. Takdir sedemikian tak tertebak pergerakannya.

Diambilnya belati yang selalu dibawa Romeo kemana-mana. Diletakannya di pangkuannya dengan hati-hati. Diusapnya permukaannya yang mengilat dengan penuh kasih sayang. Dikecupnya. Sebelah tangannya masih ada dalam genggaman Romeo yang terbaring di sisinya.

Lalu dengan teguh, Juliet menghunjamkan belati itu ke dadanya.

Dan tidak ada lagi seorang Montague atau Capulet di dunia yang bisa memisahkan mereka.

***

Red Riding Hood

Berkemas. Bergegas.

Lompati saja sempadan silam. Rambah rimbun rimba belukar redup cahaya. Punguti ranum apel yang jatuh, sambil menggoda kerumun kupu-kupu, curi liar sedap bunga-bunga rumputan, atau menyasar sulur akar menjulur-julur. Dekap lekap aroma basah tanah hangat hutan tanpa tanda-tanda. Dengar kertap sayap hijau kuning merah gugur daun tiris gerimis. Menetes wangi.

Jangan tengadah. Rindu sudah melimpah-limpah, berdesakan menunggu tumpah. Langit hanya rengkah tungku menyala-nyala. Mara melambaikan tangan, mengangsurkan nyaman. Memanggil-manggil.

Geriap rambutmu, sirna ikatan-ikatan. Senja merah saga. Pohonan mengabut. Seringai malam. Gebalau ancaman. Enyah semua bayang. Mata bara api. Lolong angin. Geletar udara. Dengus dahaga petualangan.

: “Temui aku, serigalamu.

Seorang Perempuan Menawarkan Senja

Seorang perempuan menawarkan senja.
Merah bibirnya menampung hujan.
Meludahi pintu dan jendela-jendela.
Mengantar kawanan luka.

Seorang perempuan, hujan dalam genggamannya.
Patah busur pelangi, mengapi.
Hutan pinus kuyup di dadanya.
Terbakar jadi abu berlarian ke angkasa.

Seorang perempuan dan busur pelangi.
Ke mana hujan tergesa.
Guguran daun dan kursi-kursi kosong.
Terserak kemudian membentuk lagi.
Begitu, tiada henti.

Memelihara sejenis lapar.

Sudahlah Nak, Jangan Sekolah!

 

DUNIA MODERN terlanjur menyepakati bahwa sekolah adalah tempat paling ideal untuk anak-anak menuntut ilmu, menjalani tumbuh kembang menuju kedewasaan dan memperoleh beragam bekal sikap, pengetahuan dan keterampilan bagi masa depan mereka. Bahkan, muncul anggapan bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat bagi tujuan mulia tersebut. Benarkah?

Faktanya, banyak sekolah tidak dapat memenuhi beban tujuan yang diembannya. Bahkan, sebaliknya sekolah menjadi tempat yang menyembunyikan potensi ancaman bahaya bagi anak-anak kita. Sadarkah kita bahwa di sekolah lah anak belajar berbohong, bahkan mencontek? Di sekolah pula mereka mengenal persaingan negatif, konflik dengan teman hingga terlibat tawuran. Belum lagi ancaman malpraktik pendidikan karena ada guru yang mengampu sebuah pelajaran meski ia sama sekali tidak kompeten. Orang tua menyerahkan sebagian besar tanggung jawab pengasuhan anaknya kepada sekolah tanpa menyadari bahwa tindakan itu mungkin keliru.

Buku ini mencoba mengetengahkan secara ringan beberapa fenomena keseharian yang tanpa kita sadari telah merapuhkan nilai tradisi bersekolah, baik yang datang dari sekolah itu sendiri, dari guru, siswa maupun pesatnya perkembangan teknologi. Diungkapkan dengan memunculkan ilustrasi kasus-kasus sederhana tapi sering terabaikan, buku ini mungkin akan menginspirasi Anda mengucapkan kalimat, “Sudahlah, Nak. Tak usah lagi kau bersekolah.”

 

Penulis Ichsan Hidajat

Kata Pengantar Hj. Heli Setiawati, S.Pd.M.M. Ketua APKS Bahasa Inggris PGRI Provinsi Jawa Barat

ISBN 978-602-482-458-7

Copyright © Pustaka Media Guru, 2018 

viii, 86 hlm, 14,8 x 21 cm 

Cetakan Pertama, Oktober 2018 

Kebiasaan Kecil Makan Coklat

Kebiasaan Kecil Makan Coklat

Afrizal Malna

 

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”

“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat  di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni  peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan  kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994