Sloki

Titik air denting di dasar benak
Membatang sungai di tiang leher
Menderasi pembuluh nadi lengan
Jalar berkejaran
Memusar di telapak
Menggemetari ujung jemari

Kamu, sloki
Menampung tetes kopi

Api Unggun

Seunggun nyala dihidangkan senja
Beralas anggun kerumun pohon-pohon
Tetes udara menyerbuki catatan
Matahari mengais lekukan bukit

Lalu tangan kita melipat langit
Di atasnya melayarkan perahu
Dersik, mungkin angin dari mulut kita
Hari antara bergerak dan tidak bergerak

Kita harus mengalami banyak kehujanan
Menikmati air pasang,
tersesat dan tak usah pulang

Denyut nyaring dan detak datang serempak
Batu-batu napas berlepasan
Pasir gelisir berebut saling gapai
Gerimis kehilangan genangan
Ikatan ingatan menggelepar
Semacam perasaan lapar yang menampar-nampar

Api unggun meliarkan gambar-gambar
Kedip bintang hendak menafsir pesan asapnya
Temaram meniupkan segenap gemuruh
Serangga kecil dari lubang pori kita melompat

Kayu pun binasa, lelatu juga menggerutu
Bara dan abunya kita endus
Jemari kita hitam menghangus

Sesuatu masih terus berlarian di dalam dada kita

Ada yang Memanggili Namamu

: fireworks

 

Ada yang memanggili namamu
mengajakmu menerobos tingkap
lalu mengetuki gerbang kota
ditingkahi cuaca dan keramahan
yang setiap malam menggoda di sekitar tidurmu.

Ada yang memanggili namamu
mengajakmu untuk menyergap kota yang lain lagi
menyesap hangat kopi dan sedap cokelat
nyanyi atau sekedar gumam atau separagraf kisah
dan sehabis itu menapaki jalan sepi, ke ladang,
ke jalur sungai, ke belantara, ke air terjun,
dan bukit abu-abu.

Dan terus bercerita.

Ada yang memanggili namamu
untuk masyuk gigil di pepucuk pinus
berkabar tebaran mega
mengawan, mengangkasa jauh sekali,
lalu jemarimu asyik mencorengi ekor bimasakti

Ada yang memanggili namamu
untuk mengecup gemulai pantai
menguyup asin laut, menggambari pasirnya
dan membujuk matahari senja surup sedikit demi sedikit.

Ada yang memanggili namamu
untuk mencuri rahasia derai angin
melompati busur migrasi burung-burung,
membaca jejak acak kaki-kaki kuda,
gemerisik perdu dan rimbun kuning angsana
yang mengirim gambar dan sekeranjang pesan,
ketika roh-roh, yang tak juga pergi
ditulis ulang, dibaca lagi dan begitu seterusnya.

Ada yang memanggili namamu
ambang kabut dan pendar cahaya di setiap sudut,

Kamu adalah pengelana kata
bersuka ria di banyak kota
mesra bercakap dengan segala.

Hutan

Saintis Eddie Game ditimpa sihir. Didakinya Pegunungan Adelbert di Papua Barat. Hasrat meneraca lagak bual satwa di rimba tropis yang memang gadis. Memadu atraksi ambang pagi dan riuh orkestra sandikala.

Seru burung, deru serangga, lolong anjing, salak serigala, serak gagak, kuak katak, kelepak sayap, geraman kucing, decak reptil, ketuk pelatuk, ringkik kuda, kecipak ikan, cericit tikus, desis ular.

Dramatis, sangat dramatis.

Eddie Game terjerat. Lahap mencatat.

Padahal sirap wangian hutan jauh mengesiap. Kesiur pada rimbun segar nektar putik kembang-kembang. Hirup degup sayup tanah bau pekat cokelat. Peluk rasuk napas serbacendana. Kuyup manis iris atsiri ilalang pada lekuk lembap lembah. Segala pori menyembur aroma selesa wana. Debar menguar harum remang belantara.

Kupanjat kugali geletar noktah-noktah wangi sekujur hutanku.

Kamu.

Doa untuk Indonesia

Doa untuk Indonesia

Puisi Abdul Hadi W.M.

Tidakkah sakal, negeriku? Muram dan liar
Negeri ombak
Laut yang diacuhkan musafir
karena tak tahu kapan badai keluar dari eraman
Negeri batu karang yang permai,
kapal-kapal menjauhkan diri

Negeri burung-burung gagak
Yang bertelur dan bersarang di muara sungai
Unggas-unggas sebagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu

Aku impikan sebuah tambang logam
Langit di atasnya menyemburkan asap
Dan menciptakan awan yang jenaka
Bagai si badut dalam sandiwara
Dengan cangklong besar dan ocehan
Terbatuk-batuk keras

Seorang wartawan bisa berkata: Indonesia
Adalah berita-berita yang ditulis
Dalam bahasa kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kau simpan dalam dokumentasi dunia?

Kincir-kincir angin itu
Seperti sayap-sayap merpati yang penyap
Dan menyebarkan lelap ke mana-mana
Sebagai pupuk bagi udaranya
Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya

Ratusan gerobak melintasi jembatan yang belum selesai kau bikin
Kota-kotanya bertempat di sudut belakang peta dunia
Negeri ular sawah
Negeri ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur
Tumpukan jerami basah
Minyak tanahnya disimpan dalam kayu-kayu api bertumpuk
Dan bisa kau jadikan itu sebagai api unggun
Untuk pesta-pesta barbar

Indonesia adalah buku yang sedang dikarang
Untuk tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan
Di kantor penerimaan tenaga kerja
Orang-orang sebagai deretan gerbong kereta
Yang mengepulkan asap dan debu dari kaki dan keningnya
Dan mulutnya ternganga
Tatkala bencana mendamprat perutnya

Berapa hutangmu di bank? Di kantor penanaman modal asing?
Di dekat jembatan tua
malaikat-malaikat yang celaka
melagu panjang
Dan lagunya tak berarti apa-apa

Dan akan pergi ke mana hewan-hewan malam yang terbang jauh
Akan menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ?
Ratusan gagak berisik menuju kota
Menjalin keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan
Puluhan orang bergembira
Di atas bayangan mayat yang berjalan
Memasuki toko-toko dan pasar
Di mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak
Dan emas tiruan

Indonesia adalah kantor penampungan para penganggur
yang atapnya bocor dan administrasinya kacau
Dijaga oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk

Indonesia adalah sebuah kamus
Yang perbendaharaan kata-katanya ruwet
Dibolak-balik, digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik
Sampai mata menjadi bengkak
Kata kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang, kata sifat
Kata sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu
Di mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia?
Di manakah kamus itu kaujual di pasar dunia?

Berisik lagi, berisik lagi:
Gerbong-gerbong kereta
membawa penumpang yang penuh sesak
dan orang-orang itu pada memandang ke surga
Dengan matanya yang putus asa dan berkilat:
Tuhanku, mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini
Melata di bumi merusaki hutan-hutan
Dan kebun-kebunmu yang indah permai
Mengapa kau biarkan mereka

Negeri ombak
Badai mengeram di teluk
Unggas-unggas bagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu

1971

 

 

Catatan: Bila ada kesalahan penulisan, silakan memberikan koreksi

Pancaroba

kamu harus beranjak pergi
seperti musim hujan
seperti badai menjauh mendekat
seperti hari mengambang tenggelam

kesamaran mengendap di ruang pengap
dari sini saja aku akan memandangi
kamu mengerjapkan sayap
menikmati pancaroba

matahari mengibas punggungan bukit
angin berlarat, sesat dan bermuka jahat
hey, muara menunggu di utara
di utara

kaca jendela depan membuka
segulung ingatan terulur ke luar
berusaha mengejar
cuaca masih berkemas
menyusun tubuhnya ke dalam tas

keberangkatan menyediakan sepi

Puisi

Puisi pada tubuhmu
Kudaras seinci demi seinci
Urat darah umpama peta harta karun di bawah kulit ari

Puisi pada tubuhmu
Riam-riam sungai pada ruam tanda lahir merah dan biru
Lalu air bahlah rindu

Bibliofili

bibliofili

Pencarian kata pada situs kbbi.kemdikbud.go.id sore ini tiba-tiba berhenti pada kata bibliofili. Dan serentak saya langsung teringat pada sosok Hatta, proklamator kemerdekaan dan wakil presiden pertama republik ini.

Mohammad Hatta adalah bibliofili. Bahkan lebih maniak.

Seorang pecinta buku yang sejati. Sejak kecil Hatta tidak pernah dapat dilepaskan dari buku, tiada hari tanpa membaca. Menurut kakaknya, Ny. R. Lembaq Tuah, di sekitar Hatta selalu ada buku. Setiap lembar kertas dari bukunya, dibuka secara hati-hati dan dibaca dengan cermat.

Sejak usia belia, Hatta sudah memiliki wawasan yang lebih baik dibanding anak-anak sebayanya berkat kegemarannya ini. Sepanjang hayatnya, Hatta mengoleksi sepuluh ribuan judul buku. Koleksinya berasal dari berbagai literasi, mulai dari berbahasa Inggris, Belanda, Prancis, hingga Jerman. Ekonomi jadi genre favoritnya, selain koperasi, agama, hukum, dan sejarah. Jumlah koleksinya mengantar Hatta masuk kelompok “orang langka Indonesia”. Pun setelah beliau berhenti sebagai wapres, Hatta semakin mencintai hari-harinya bersama buku-buku.

Sewaktu diasingkan ke Boven Digul dan Banda Neira, Hatta membawa 16 peti berisi buku-bukunya. Ke manapun pergi selalu dibawanya koper yang berisi buku-buku. Dalam sehari ia menghabiskan waktu dengan buku antara 6 sampai 8 jam sehari. Di pengasingan Hatta punya waktu lebih leluasa untuk melahab buku-bukunya. Baginya, dengan buku dia merasa bebas. “Setiap orang yang meminjam bukunya, selalu dicatat dalam buku: nama, tanggal meminjam, tanggal mengembalikan serta orang tersebut selalu diingatkannya agar menjaga buku yang dipinjam sebaik-baiknya,” ujar Ny. Lembaq dalam biografi Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan.

Ketika menikah, Hatta menjadikan buku sebagai mas kawin. Sempat sang bunda gusar karena Hatta memberikan buku karangannya itu untuk sang calon istri. Hatta tetap pada pendiriannya. Akhirnya buku Alam Pikiran Yunani itu menjadi mas kawin pernikahan Bung Hatta kepada Rahmi Rachim.

Dalam buku Soekarno-Hatta: Persamaan dan Perbedaannya (1981) Rahmi Hatta mengatakan, suaminya punya tiga istri yang sangat dicintainya. Tentu saja ucapan Rahmi membuat wartawan terkejut. Setahu mereka Hatta adalah sosok yang sangat konsekuen dan setia kepada satu istri. Ketika ditanya siapa saja istrinya, Rachmi pun menjawab,  “Pertama tikar sembahyangnya, kedua buku-bukunya, ketiga saya sendiri!”

Ada juga yang bilang bahwa buku adalah pacar kedua Hatta. Dalam buku Bung Hatta Kita: Dalam Pandangan Masyarakat (1982) Basyariah Sanusi Galib bertutur, “Buku itulah pacar kedua”. Tetapi, “… Hatta sebenarnya bukan pacar yang pencemburu. Ia bahkan suka sekali menyumbangkan buku-bukunya yang kebetulan dimilikinya lebih dari satu misalnya pada Pustaka Hatta, Bukit Tinggi.”

Saking cintanya terhadap buku, sampai Hatta tersinggung jika ada buku yang dilipat. Dalam buku Pribadi Manusia Hatta: Hatta dan Sumpahnya (2002) dikisahkan bahwa suatu hari ia melihat Hasjim Ning membaca buku sambil melipatnya sehingga bagian kulit depan dan bagian kulit belakang buku bertemu satu sama lain. Melihat kejadian tersebut, Hatta marah seketika seraya berkomentar, “Tak boleh buku dilipat semacam itu.”

Dalam buku yang sama, Galib menceritakan bahwa Hatta mengatur sendiri letak buku-buku koleksinya, tidak suka melihat buku terbalik. Kalau mau membaca buku beliau tiup dulu agar bersih, dan saat membaca buku terbitan lama yang sudah tidak terbit lagi, beliau sangat hati-hati supaya tidak sobek. Selain itu, menurut penuturan anaknya, Hatta mencintai buku dan berusaha memenanamkan rasa cinta buku kepada ketiga anaknya. Oleh karenanya, sejak kecil mereka diberi bacaan-bacaan bermutu.

Salah satu pesan Bung Hatta yang bisa dijadikan pelajaran adalah “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Pada zaman milenial dan serba digital saat ini, menemukan seorang bibliofili, seperti Bung Hatta, adalah pekerjaan yang muskil.

Hampir mustahil.

Allan Karlsson, Sebuah Dongeng untuk Orang Dewasa

cover buku the 100 year old man

Reviu Novel The 100 Year-Old-Man Who Climbed Out Of the Window and Disappeared
Penulis: Jonas Jonasson
Penerbit Bentang Pustaka 2014
508 halaman
 

Seandainya diberi Tuhan panjang umur, sampai 100 tahun dan berkesempatan kabur dari rumah lansia, apa yang akan Anda lakukan?

Setelah kehidupan yang panjang dan berlimpah peristiwa, Allan Karlsson berakhir di rumah lansia, dan percaya tempat itu akan menjadi perhentian terakhirnya. Satu-satunya masalah adalah kesehatannya masih baik. Sebuah perayaan besar sedang dipersiapkan untuknya – yang akan dihadiri juga oleh walikota dan beberapa wartawan. Allan benar-benar tidak tertarik, sebaliknya memutuskan untuk melarikan diri. Kurang dari satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus, ia memanjat keluar lewat jendela dan memulai petualangan yang absurd dan sepenuhnya tak terduga.

Kaki tuanya yang hanya beralaskan sandal kencing tiba di terminal Malmköping dan memesan bus yang akan berangkat tiga menit lagi. Bertemu seorang pemuda ceking berjaket denim dengan tulisan Never Again di punggungnya yang terpaksa menitipkan kopernya karena si pemuda ingin buang air di toilet sementara kopernya tak muat masuk toilet. Allan memutuskan membawa—atau tepatnya mencuri—koper tersebut (berisi uang limapuluh juta krona!) karena bus yang ia tunggu sudah tiba dan akan segera berangkat. Premis yang brilian untuk sebuah kisah yang unik dan orisinal.

Perjalanan Allan yang tanpa rencana membawanya bertemu dengan banyak orang dan menimbulkan aneka masalah. Rumah lansia geger karena kakek berumur seabad yang akan merayakan ulang tahun justru hilang. Wartawan, polisi, bahkan masyarakat bergerak untuk mencari si kakek. Allan bertemu sekelompok kriminal, pemilik kios hotdog, perempuan pemilik peternakan, seekor gajah, seekor anjing, inspektur polisi, jaksa dan beberapa tokoh unik lainnya.

Di balik itu, sebenarnya Allan memiliki latar belakang yang lebih besar dari kehidupan sebelum ulang tahun keseratusnya: ia tidak hanya menyaksikan beberapa peristiwa paling penting dari abad ke-20, melainkan sebenarnya memainkan peran-peran kunci.

Buku ini terdiri dua bagian, bagian tentang pelarian Allan dari rumah lansia dan terlibat dalam perampokan dan pembunuhan dan bagian kilas balik seratus tahun masa lalunya. Dalam perjalanannya yang meluas ke seluruh belahan dunia ia bertemu Franco, bertengkar dengan Diktator Stalin, berteman dengan Presiden Harry S. Truman, menyelamatkan Jiang Qing istri pemimpin komunis Mao Tse-tung, melewati pegunungan Himalaya naik onta bersama teman komunis, ditahan di Teheran, bertemu dengan Perdana Menteri Kim Il Sung, dibuang ke Gulag, menyamar menjadi Marsekal Soviet bersama dengan sahabatnya yang ternyata adalah saudara gelap Albert Einstein, menjadi mata-mata CIA. Juga, jangan lupa, berkelana di Bali.

Orang mungkin akan menganggapnya lucu tapi saya pikir kisahnya lebih ke satir. Pembaca akan suka dengan tokoh Allan Karlsson yang unik, absurd, polos, dan sangat santai. Allan digambarkan sebagai pria beruntung di tengah beragam kejadian. Beberapa kali ia lolos dari peristiwa yang bisa merenggut nyawanya, sementara orang-orang yang ia temui mati secara tiba-tiba. Alur yang maju mundur, digambarkan dengan kisah Allan sekarang—dimulai tahun 2005 saat umurnya tepat seabad—dan kilas balik petualangannya—dimulai saat ia lahir tahun 1905 dan meledakkan rumahnya sendiri ketika ia masih kecil. Mana yang lebih seru, pelariannya saat ulang tahun atau petualangannya sepanjang masa muda?

Saya juga salut dengan sikap laissez-faire Allan terhadap segala hal. Tidak suka ambil pusing dengan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Apalagi dengan politik. “Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting.” 

Yang menarik sebenarnya adalah cara Jonas bercerita, menyindir politik dan para politisi. Betapa dia menghubungkan kehidupan seorang lelaki Swedia ahli pembuat bom yang tak tertarik dengan topik politik dengan serangkaian peristiwa politik penting yang mengubah dunia sepanjang abad keduapuluh. Tentu butuh referensi sejarah yang padu sebelum sang penulis menyulap setiap peristiwa itu sebagai satir – melalui keterlibatan Allan. Menggelitik sekali bagaimana Allan menyelesaikan setiap konflik besar dunia dengan cara-cara konyol, di luar dugaan dan sama sekali tidak intelek. Cara-cara apolitik. Pada akhir tiap bagian, Jonas menyimpan kalimat satir atau twist yang di luar dugaan. Membalikkan logika berpikir kita, pembacanya. Sebagian sangat menyebalkan. Apapun yang dilakukan para tokoh-tokoh penting dunia ditanggapi Allan dengan santai. Beberapa tokoh dan negara ‘disindir’ atau ‘diselewengkan’ dalam buku ini.

Menariknya, Allan juga menyindir Indonesia, bahkan pada lebih dari satu bagian kisah. Bisnis nakal mengawetkan daging baso, semangka, menerbangkan seekor gajah dari Eropa ke Indonesia, wanita ber-IQ rendah yang jadi Gubernur kemudian duta besar dan juga isu korupsi. “Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin.”

Kalau orang dewasa memerlukan semacam dongeng, maka inilah buku yang cocok. Meski agak bertele dan lambat pada bagian awal. Pun tak ada ledakan kejutan pada akhir petualangan. Kecuali bahwa Allan sudah berkomitmen untuk membantu Presiden Indonesia Yudhoyono membuat bom atom.

Lepas dari kontroversi masalah Jonas Jonasson dengan istrinya (yang asli Indonesia) buku ini sangat layak untuk dibaca.

 

@02-02-2020

Rintiknya Mulai Reda, Tapi Menulislah Terus

Rintiknya mulai reda, tapi menulislah terus.
Apalagi hari-hari terakhir Januari.
Awan seperti penagih utang berjaket gelap:
senang meludah dan memandang curiga.

Sudah musim hujan, kata prakiraan cuaca.
Seharusnya mengantar mekar bunga-bunga.
Namun cuacanya tak tentu.
Kadang hutan terbakar, indah pijar-pijar
atau tanah memercik wangi darah.
Seekor burung hitam terbang melintang.
Kabar tak pernah benar.

Tinggal kecemasan menyerupai didih air
yang menggigil ditindih kerikil.

Orang-orang pusat masih cermat merangkai dusta,
belati di belakang punggung mereka.
Padahal gerimis tak membedakan tempat jatuhnya
Basa-basi dongeng pangeran putri
sudah dicampakkan kanak-kanak ke luar jendela.
Bagaimana mereka bisa menentukan:
ini dinding runtuh atau langit akan jatuh?

Tinggal kecemasan menyerupai didih air.

Gugus mendung abu-abu,
ajaib kau bungkus pemandangan sore.
Matahari tungkus basah, tebing batu hijau berlumut
menjelma prasasti yang nyaris tercerabut

Tengok, ada setengah jutaan orang sedang kalang-kabut.