Setrika

Aku ingin menyetrika dadamu yang kusut
Oleh amarah atau kemalasan, bisa jadi
Agar rapi
Lantas mengaitkannya
Pada gantungan di dalam lemari

Aku ingin menyetrika lenganmu yang menggulung
Oleh kejahilan atau kedunguan, seringnya begitu
Agar rapi
Lantas melipatnya, atau tidak melipatnya
Dan melemparkannya ke wadah cucian
Sebab percuma saja menata lengan
dan jari-jari tanganmu

Aku ingin menggosok kepalamu agar licin
Membenahi masai serabut kabel otak
yang seliweran tak tertib
Agar rapi
Lantas mengenyahkannya ke keranjang sampah
Percuma saja dengan upayaku

Kamu tak punya kepala, ternyata

@27082019

Advertisements

Tentang Jarak

Bagaimana menerjemahkan jarak. Pada parau kemarau. Mengharap tetesan kabut menetas pada kasap kasia. Merebahkan napas lasuh pada lelayu daun ranggas ranting regas dahan mangga. Serbu riuh gugur putik bunga-bunga jambu.

Nyala siang mengiris mata. Angin tandus memegangi ujung agustus, sia-sia mengemis gerimis. Benang-benang awan rawan membentang. Bulan sabit murung memencil di utara langit. Letih matahari purnama melayang jatuh ke sawah terbelah, tersasar lingkar-lingkar musim.

Terik sore berjingkat di atap rumah.

Dan segala suara lesap menyayup ketika bau kamu perlahan mengembus menyergap. Wangi atsiri berayun pada kerjap bulu-bulu mata. Debu silika membentur-bentur hidung. Lini jemari menguarkan ranum uap sitrus. Pipi titik keringat. Samar semerbak serbuk cokelat kopi lindap mengepung ruang rekah kedua bibirmu. Yang tak mengenal kemarau.

Menyirnalah jarak.

Rendra: Sehelai Daun dalam Angin

Ini sebuah cerita pendek yang indah karya W.S. Rendra. 

SEHELAI DAUN DALAM ANGIN

Saya menulis cerita ini untukmu, Herman. Saya tak tahu lagi di mana engkau sekarang berada, berhubung dengan tempatmu yang berpindah-pindah itu. Namun, semoga engkau sempat membaca cerita ini, dan setelah itu sudi merenungkannya secara bersungguh-sungguh.

Saya pernah menulis surat kepadamu dan menerangkan bahwa anak lelakimu, Fajar, telah bertunangan dengan anak perempuan saya yang menengah, Retno. Kita berdua telah sejak kecil bersahabat, dan sekarang saya girang bahwa anak kita berdua telah melanjutkan ikatan batin kita. Namun, baru-baru ini datang sebuah kesulitan. Sambil menangis, anak perempuan saya itu telah bercerita padaku, bahwa Fajar meminta untuk memutuskan pertunangan itu. Hal ini sungguh-sungguh merepotkan karena justru kami sedang bersiap-siap untuk rancangan perkawinan mereka.

Tambahan lagi, rupa-rupanya cinta Retno sedemikian besarnya kepada Fajar sehingga saya tak bisa melihat kemungkinan yang baik di hari depan Retno, apabila pertunangan itu dibatalkan. Jadi, saya pun bertindak membereskannya. Barangkali ada baiknya kalau saya ceritakan dari permulaan.

Pada saat engkau meninggalkan istrimu, Fajar baru berumur sepuluh tahun. Istrimu telah mengasuhnya baik-baik dan mempergunakan harta yang kau tinggalkan yang banyak itu dengan baik-baik pula untuk membesarkannya. Anak lakimu itu mempunyai bakat yang besar dalam seni musik. Istrimu telah membelikannya sebuah piano dan mendatangkan seorang guru yang baik untuknya. Akhirnya, Fajar telah menjadi pianis yang pantas dibanggakan. Telah tiga kali orang membuat artikelnya di koran, berikut dengan potretnya. Barangkali kau pernah pula menjumpainya.

Pemuda itu telah beruntung mempunyai seorang ibu yang bersifat pengasuh dan sangat mencintainya, kecuali itu ia juga mempunyai bakat yang besar, ditambah lagi bahwa ia mempunyai kehidupan yang mewah. Meskipun begitu, ia selalu tampak tidak bahagia. Ia tampak hidup dalam kehidupan yang goyah, seluruh tingkah dan pernyataannya, temperamennya menunjukkan ketidakstabilan. Ia mulai berhubungan dengan Retno sejak ia berumur dua puluh tahun, tetapi aku baru menyetujui pertunangan mereka ketika ia berumur hampir dua puluh tiga tahun itu. Mula-mula pikiran saya diliputi kekhawatiran juga ketika mengetahui bahwa anak saya telah bergaul dengan dia, pemuda yang kelihatan liar, tidak stabil, dan menonjolkan begitu banyak teka-teki dalam sikap dan temperamennya. Saya menjadi penuh tanya di dalam hati setelah beberapa lama menyelidiki kelakuan dan tabiatnya. Ia sangat suka berkelahi, tetapi kadang-kadang juga ragu-ragu bertindak karena ketakutan yang mendatangkan kebimbangan. la ngomong dengan suara keras dan lagu memerintah yang kemanja-manjaan, tetapi juga sering terlihat menekurkan kepala, pendiam, malu dan bersuara rendah penuh suasana lesu, serta iseng. Dengan perkataan lain, barangkali ia bisa disebutkan sebagai ayam jantan yang bagus.

Dua unsur perwatakan yang saling bertentangan selalu berbenturan di dalam batinnya. Meskipun umurnya sudah hampir 25 tahun, tetapi ia masih kelihatan seperti kanak-kanak. Waktu aku menyadari untuk kali pertama hubungan antara anak saya dengan dia, aku berkata kepada anak saya

“Lihatlah, anak itu masih hijau betul. Seorang bocah yang nakal.”

Akan tetapi, rupa-rupanya anak saya sudah tergila-gila kepadanya. Sehingga, akhirnya aku tidak sampai hati untuk melancarkan perlawanan.

Saya tidak menyukai cara anakmu menghabiskan waktunya. Dari pagi sampai petang, waktunya habis untuk dolan. Ia mempunyai kebiasaan makan di restoran, nonton sembarang film, gemar piknik dan lain-lain ke pelesiran. Sebetulnya ia mempunyai otak yang cerdas, tetapi ia malas sekolah. Ibunya berkata kepada saya, bahwa ia suka sekali membeli buku-buku, tetapi sampai di rumah tak pernah dibacanya.

Ibunya telah mencoba mendidiknya sebaik-baiknya. Ibunya itu pernah berkata kepada saya, “Saya telah berusaha sekuat-sekuat saya. Ia memang merupakan soal yang sulit bagi saya, tapi saya tak akan putus asa. Ia sebagai kuda jantan yang manis kepada saya, tetapi terlalu kuat tenaganya sehingga saya sukar mengendalikannya.”

Fajar pun menyayangi ibunya dan banyak berbuat kebaikan untuknya, tetapi selalu dengan caranya sendiri yang aneh, penuh teka-teki, dan mendebar-debarkan itu. Dengan cara mokal-mokal sekali, kadang-kadang di rumah ia memperlihatkan sikap pemberontak yang ganas, murung, dan mata gelap. Namun, ia tidak suka ibunya kelihatan menderita. Segala tindakan dan maksudnya selalu merupakan pertentangan. Dengan kata singkat, ia tidak tahu apa yang ia ingini sebenarnya.

Menurut cerita Retno kepada saya, ia selalu bersikap manja kepadanya. Retno memang mempunyai sifat sabar dan sifat keibuan. Kemanjaan Fajar tidak memberatkan hatinya. Kecuali itu ia bisa bersikap keras sehingga ia bisa membimbing pemuda yang selalu gelisah itu. la tidak segan-segan bertindak keras tegas sehingga hal itu kerap menjadikan pangkal ketegangan antara kedua kekasih itu. Namun, Retno pandai memperlihatkan bahwa di balik sikapnya yang keras itu tertanam cinta yang sungguh-sungguh dalam dan gila.

Dengan penuh kesabaran, Retno menghadapi teka-teki mengenai wataknya. Kadang-kadang, tiba-tiba Fajar berkata kepadanya bahwa ia akan berhenti main piano sama sekali.

“Untuk apa sebenarnya aku main piano dan ternama?” katanya.

Dan, Retno akan selalu berkata, “Untuk orang yang kau cintai, untuk ibumu, dan untukku.”

Sebagai seniman ia banyak mempunyai pemuja-pemuja, tentu saja di antaranya, gadis-gadis. Dengan gadis-gadis pemujanya ia selalu bersikap sembrono. Ia menyukai pemujaan mereka, tetapi tidak memberikan balasannya yang jujur. la membalasnya dengan harapan-harapan yang palsu. la kurang bersikap sederhana terhadap gadis-gadis pemujanya. Hal ini juga sering merupakan pangkal pertengkaran dengan Retno. Retno menyebut bahwa sikap semacam itu sama saja dengan sikap seorang bajul, Namun, Retno sendiri pun insyaf bahwa pada dasarnya Fajar bukan seorang bajul, tetapi semata-mata seorang pemuda yang gelisah dan linglung. Dengan sebenarnyalah saya umpamakan, bahwa Retno merupakan pelabuhan yang aman baginya, setelah mengarungi badai yang dahsyat dalam jiwanya itu.

Menurut cerita Retno, tiada lama berselang ke belakang ini, sudah terang dalam keadaan kekacauan jiwanya, yaitu setelah bertengkar dengan Retno mengenai sesuatu hal, Fajar telah berbuat serong. Ia pergi ke Kaliurang, bermalam dengan salah seorang gadis pemujanya. Semua orang di Yogya telah tahu apa yang terjadi, dan hal ini telah menimbulkan heboh yang besar di kalangan pemuda-pemuda di Yogya. Dan, bagi Retno hal itu merupakan tamparan yang hebat bagi cintanya yang gila itu. Ia telah mengirimkan sepucuk surat kepada Fajar yang berisi kutukan dan permintaan putusnya pertunangan, di luar pengetahuanku.

Akhirnya, Fajar sadar akan keedanan perbuatannya. la selama itu tidak sadar akan perbuatannya. Sebagai orang yang mabuk atau kena bius, ia melambung dan membubung dengan lalai dalam dosanya, kemudian tiba-tiba tersadar dan terbangun. Ia terperenyak dengan kerasnya. Sangat parah dan kasihan sekali. Ia menyembah-nyembah Retno agar mengampuni kesalahannya. Namun, Retno sudah telanjur sangat marah dan terluka. Ia tetap menolaknya.

Sebagai orang yang kebingungan, Fajar lalu menempuh jalan yang biasa ditempuh oleh kerbau jantan yang terluka, mengganas ke sana kemari, memusuhi dunia dan orang-orang di kanan kirinya. Ibunya menderita sekali akibat sikapnya itu. Ia datang kepadaku dan mengeluh bahwa anaknya sekarang suka mabuk dan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang berbahaya. Pendeknya, semua orang disusahkannya. Sehingga, pada akhirnya Retno pun menjadi luluh hatinya. Dengan menangis ia menjumpai Fajar dan berkata kepadanya, “Kemari, Manis-ku, kemari! Aku tetap mencintaimu.”

Kejadian itu telah membereskan semuanya. Topan kehebohan sudah reda. Kedua kekasih itu banyak pelesir dan mempunyai rencana-rencana bersama. Retno lulus ujian kandidatnya di Fakultas Sastra. Fajar sukses dalam konser amalnya untuk Dana Perjuangan Perebutan Irian Barat. Waktu berangkat konser, Fajar dan ibunya berangkat bersama-sama satu mobil dengan keluarga kami. Malam itu, Fajar banyak tersenyum dan ia telah menyuguhkan sebuah malam yang gemilang. Ia mainkan sebuah lagu kesayangan ibunya. Ibunya melelehkan air mata karena terharu dan memegang tangan Retno, calon menantunya.

Setelah malam itu, dengan lebih banyak memikirkan kepentingan Fajar, istrimu, dan saya berikut istri saya, merundingkan untuk mempercepat perkawinan kedua kekasih itu. Berhari-hari kami asyik merancangkan dan mempersiapkan segala sesuatunya sampai ke detail sehingga akhirnya semuanya telah beres, tinggal menunggu hari jadinya saja.

Betapa terkejut saya waktu tiba-tiba Retno, sambil menangis, berkata kepada saya, bahwa Fajar minta supaya pertunangan itu diputuskan. Ketika saya tanyakan sebab-musababnya, Retno menjawab, “Saya tak tahu sebab-sebab yang sebenarnya. Mula-mulanya saya hanya heran, kenapa ia telah lama tidak datang ke rumah. Kepada salah seorang temannya saya tanyakan halnya. Teman itu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu, ia telah berkelahi dengan Sukro, teman kami berdua. Sekarang Sukro di rumah sakit akibat perkelahian itu.”

Sejak perkelahian itu, Fajar jadi selalu gusar dan murung. Ketika saya tanyakan, apa sebab-sebab perkelahian itu, teman itu hanya menunduk saja. Ketika sekali lagi saya tanyakan sebabnya, ia menjawab bahwa sebabnya ialah saya. Sesudah itu, teman tadi tak mau memberi keterangan lebih lanjut.

Akhirnya, datanglah Fajar dengan mengatakan bahwa ia menuntut supaya pertunangan diputuskan. Saya bertanya, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan perkelahiannya. la menjawab kurang lebih memang begitu. Banyak lagi igauannya yang mokaZ-mokal. Dikatakannya bahwa ia merasa kasihan kepada saya karena ia telah merusak hidup saya. Saya tak bisa mengerti lagi maksudnya.

Ia mengeluarkan perkataan-perkataan yang menjengkelkan saya, membosankan saya, membingungkan saya, dan mematahkan saya. Ayah, tolonglah saya.

Begitu antara lain kata anak saya, dan saya merasa tak bisa berbuat lain, kecuali segera juga bertindak  dan membereskan hal itu. Apalagi setelah ibu Fajar sendiri datang pula untuk meminta tolong saya membereskan hal itu.

Segera saya pergi menemui Fajar di rumah ibunya. Ibunya menganjurkan supaya saya langsung menemuinya ke kamarnya. Ketika saya mengetuk dan mulai masuk ke kamarnya, ia menyambut saya dengan sikap pemberontak yang dingin dan keras kepala. Namun, keadaan kamarnya yang keras berbau asap rokok dan lantainya kotor oleh abu, puntung, serta bekas-bekas bungkus rokok, menandakan bahwa hatinya sedang rusuh, menderita, dan gelisah. Keadaan kamarnya tak teratur, pianonya terbuka dan berdebu, beberapa butir abu terserak di atas tuts-tuts piano.

Saya menerangkan bahwa maksud kedatangan saya ialah untuk membereskan keruwetan yang tak perlu mengenai pertunangan itu. Saya terangkan, bahwa ia harus berpikiran lebih tenang dan sehat. Janganlah bertingkah yang menggegerkan orang. Ia mengatakan bahwa ia telah cukup bijaksana, dan ia mengambil keputusan untuk membubarkan pertunangan itu justru demi kebijaksanaan. Selanjutnya kami ramai berdebat tentang itu. Segera saja dari omongannya, saya tahu bahwa pemuda itu sedang dihinggapi rasa rendah diri dans eakan-akan tiba-tiba merasa terkalahkan. Akhirnya, saya pun membentak, “Semuanya omong kosong. Janganlah kau menuruti perasaanmu yang tidak beralasan. Kau cukup berharga, sebagai seniman dan sebagai manusia. Janganlah perasaan rendah dirimu mendorong kau untuk merusakkan percintaanmu,”

Akan tetapi, ia lalu berkata, “Seorang teman telah berterus terang mengatakan bahwa ia cinta Retno. Saya jadi jengkel. Benci pada orang itu, apalagi setelah lama tahu, bahwa sudah lama ia sendiri mencintai Retno. Saya pukul orang itu. Saya pukul, saya hajar. Namun sesudah itu, di kamar ini, saya merenung dan mendapati hal, bahwa segala kata-kata orang itu memang betul. Apakah sebetulnya saya ini? Seorang berandal. Tak lebih dari itu. Kerja saya cuma pelesir, bikin heboh, bikin kacau, lalu bermalas-malas. Pianis, bah pianis! Untuk apa sebetulnya saya main piano?”

“Untuk apa? Tentu saja segala sesuatunya ada tujuannya. Nah, sekarang tinggal kau saja yang tak sadar akan tujuan yang sebenarnya.”

“Bukannya tak sadar. Tapi, memang tak ada.”

“Jadi kau hidup tanpa tujuan?”

“Ya!”

“Nah, kalau begitu, kau memang orang yang tidak berguna. Kau memang pantas marah pada dirimu sendiri. Karena dirimu penuh keruwetan dan kegelapan. Seperti teka-teki yang menjemukan. Seperti kuda liar yang selalu gelisah. Orang yang hidup tanpa tujuan. Orang yang hidupnya kosong. Tak tahu apa yang dikehendakinya sendiri sebenarnya. Apa yang dilakukan selalu lain dengan yang dimaksudkan. Pendeknya kau memang ruwet. Tapi, apa pula faedahnya tinggal marah-marah pada diri sendiri? Kenapa tak kau coba mencari sebabnya? Apa sebabnya keruwetan ini? Apa sebabnya? Sebabnya.”

Fajar terdiam. Ia berlari ke piano, menelungkupkan mukanya ke atas tuts-tuts piano itu dan menangis tersedu-sedu. Saya tak bisa berbuat apa-apa untuk sementara, kecuali duduk di depannya, menunggu ia tenang kembali dan merokok. Sementara itu terasa kemudian oleh saya, bahwa saya sendiri mulai merasa pusing terhadap hal itu. Setelah lama, baru ia bisa menenangkan dirinya. Sambil menghapuskan air matanya, ia bertanya, “Kenapa Bapak tidak pulang saja?”

Saya menggelengkan kepala.

Lama kami tak saling berbicara. Ia melamun, lalu akhirnya menatapi tuts-tuts piano, dan kemudian mulai memainkan sebuah lagu yang murung dan mengiba. Saya memberi komentar, “Lagu yang sedih.”

“Ya Chopin,” jawabnya sambil masih terus bermain.

“Saya tak tahu apa-apa tentang lagu. Bagi musikus barangkali lagu itu berbicara seperti sebuah cerita pendek saja atau lukisan.”

Ia tersenyum masam, lalu bersuara lagi, “Padaku ia bercerita tentang seorang anak kecil berdiri sendirian di sebuah padang yang sangat sunyi dan luas. Ia adalah anak yang dibuang. Ia menangis ketakutan. la menggigil kedinginan. la putus asa dan tanpa harapan. Menanti tak tentu apa yang dinanti. Menjerit minta tolong tanpa keyakinan akan ditolong. Ia adalah anak yang terbuang. Terbuang.”

Ia berhenti ngomong dan lalu memejamkan matanya.

Sementara itu tiada berhenti juga ia bermain. Tiba-tiba ia bersuara lagi, “Kadang-kadang saya bertanya kepada diri saya sendiri, sudah sejak saya kanak-kanak dulu, kenapa saya dilahirkan ke dunia. Saya merasa sedih bahwa saya telah lahir ke dunia. Sekarang saya takut. Apabila saya kawin dan beranak, dan kemudian anak saya bertanya kepada saya: Papa, kenapa saya lahir ke dunia? Saya pasti akan sangat bingung.”

Tiba-tiba saya bangkit dan berkata, ‘Anakku, apa yang kau butuhkan ialah seorang Bapak.”

“Ya. Itulah jawaban yang tepat. Saya membutuhkan seorang bapak. Sejak kecil saya merasa sebagai anak yang terbuang. Sejak kecil, saya merasa hidup dalam kehidupan yang pincang. Waktu kecil saya biasa menangis karena cemburu pada seorang anak yang diajak nonton sepak bola oleh bapaknya. Saya sudah dinasibkan merasai cacat kehidupan. Apa yang akan saya pegang akan ikut cacat pula. Saya anak yang terbuang. Seharusnyalah selalu tetap terbuang.”

Nenek moyang kita zaman dahulu akan berkata, “Seorang lelaki harus segera bangkit apabila ia jatuh tersungkur, memahami cacat dan kejatuhan diri sendiri memang sangat baik, tetapi lebih mulia lagi kalau ia segera bangkit kembali dan melangkah lagi. Anakku Fajar, akulah bapakmu. Marilah saya bimbing kau supaya bangkit dari segala keruwetan ini. Fajar, saya sekarang bapakmu. Menurutlah sekarang padaku.”

Demikianlah, setelah pertemuan itu, hari demi hari kami bersama berusaha keras untuk melenyapkan keruwetannya. Sekarang hasilnya sudah sangat lumayan. Herman, saya harap kau mengerti ceritaku ini.

Anakmu, Fajar, membutuhkan ayahnya. Kerjaku tak akan sempurna sebelum kau sendiri ikut serta. Kasihanilah pemuda yang berbakat itu, akhirnya ia, toh, juga darah dagingmu sendiri. Betapa saja hasil yang akan kita capai, apabila engkau sudi pergi kepadanya dan berkata.

“Anakku, aku datang untuk minta maaf. Kesalahanku padamu sangat besar, tetapi berilah saya kesempatan untuk bangkit kembali dari kesalahanku. Berilah saya kesempatan untuk membimbingmu dan bersama-sama membangun segala yang retak. Anakku, marilah kita bersikap sebagai anak dan bapak.”

Herman, saya tak mencoba mencampuri urusan pribadimu mengenai perkawinanmu. Tetapi, apa pun juga sebab musababnya, saya tak bisa melihat baiknya perceraian dalam perkawinan. Perkawinan berarti saling pemasrahan badan dan jiwa yang mutlak antardua kekasih. Pemasrahan mutlak berarti terjadi hanya sekali dan untuk selama-lamanya. Segala yang retak dapat dibangunkan, yang bengkok dapat diluruskan, kenapa mesti ada perceraian? Perceraian selamanya mendatangkan kesengsaraan.

Anakmu Fajar dalam suasana ruwet dan gelisah. Sebagai daun kering di dalam angin, merasa sepi dan terbuang. Siapakah yang bertanggung jawab?

 

W.S. Rendra
Buku Ia Sudah Bertualang, N.V. Nusantara, 1963.
Diterbitkan ulang dalam buku: Pacar Seorang Seniman

Iqbaal versus Pram

Kenal Iqbaal?
Iqbaal Ramadhan CJR? Kenal, dong.
Kenal Pram?
Tunggu, Pram yang mana?
Pramoedya Ananta Toer.
Siapa ya? Artis juga?
Penulis.
Penulis? Baru ya? Belum sepopuler Boy Chandra atau Ika Natasha.
Novel “Bumi Manusia”?
Oh, itu judul buku pertamanya?
Nah. Aneh.

Bagaimana kalau saya kabarkan bahwa Iqbaal Ramadhan CJR memerankan tokoh Minke dalam film terbarunya “Bumi Manusia”, sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya penulis besar Pramoedya Ananta Toer?
Tetap saja, anak-anak kita akan lebih tergoda untuk menantikan sebagus apakah pesona Iqbaal dalam film itu.

Saya tidak akan menceritakan tentang Iqbaal. Saya justru sedang menyayangkan betapa anak-anak muda sekarang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer. Betapa anak-anak kita tidak akrab dengan karya sastra besar dan penulis hebat Indonesia. Padahal Bumi Manusia adalah salah satu dari tetralogi yang ditulis Pram di Pulau Buru bersama Anak Semua BangsaJejak Langkah, dan Rumah Kaca. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa. Dan hingga saat tulisan ini dimuat Pram adalah satu-satunya penulis Indonesia yang pernah menjadi kandidat peraih penghargaan Nobel bidang sastra.

Novel-novel Pram memang tidak dipajang secara khusus di etalase toko buku agar dilirik kaum muda kita, juga tersenjang jarak cukup jauh antara era kepenulisan Pram dan masa hidup generasi milenial saat ini. Namun saya kira itu bukanlah alasan yang kuat. Mestinya anak-anak kita mengenal (para) sastrawan terkemuka di negeri ini, setidaknya melalui pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah.

Hal yang serupa pernah terjadi ketika penulis NH Dini atau Hamsad Rangkuti atau Arswendo Atmowiloto meninggal dunia. Siapa itu Dini? Mantan kamu, ya? Hamsad Rangkuti, wah siapa lagi itu? Arswendo? Hmm… Ketidaktahuan yang sangat menyebalkan.

Tidak dikenalnya Pram, NH Dini, Rangkuti dan nama-nama sastrawan lainnya oleh anak-anak kita menyulut pertanyaan perihal pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah: Masihkah ada tempat yang layak bagi karya sastra dalam kurikulum pendidikan kita? Apakah karya-karya besar sastrawan negeri ini sudah masuk ke dalam daftar bacaan yang perlu dibaca para siswa untuk mengasah apresiasi mereka terhadap karya sastra? Sejauh mana upaya kita selalu professional literat dalam mendekatkan sastra terhadap anak-anak?

Daftar bacaan sastra akan menentukan bagaimana kaum muda kita mengenal bukan saja sejarah penulisan karya sastra, melainkan juga dinamika sosial, budaya dan politik yang berlangsung di tengah masyarakatnya. Tak bisa dibantah bahwa karya sastra mencerminkan nilai-nilai dan kekuatan sosial politik pada zamannya.

Bacaan sastra yang diapresiasi di sekolah, juga akan membentuk citra rasa estetik dan kejernihan berpikir siswa. Betapapun, sastra mengambil peran dalam membangun kehalusan perasaan, dan kepekaan dalam menangkap, memahami dan mengaplikasikan bahasa dalam kehidupan. Mereka yang gemar membaca karya sastra akan cenderung menggunakan bahasa dengan cermat, menghindari perilaku kasar dan menolak perundungan.

Karya sastra juga mengasah kemampuan imajinasi pembacanya, menggali kemampuan mengomunikasikan gagasan, menghubungkan rincian-rincian pada suatu teks serta menganalisisnya. Membaca karya sastra memungkinkan siswa untuk menerima perspektif yang berbeda. Dengan memasuki alur cerita, merasakan menjadi putri raja, polisi, buruan, pengungsi atau hantu sekalipun, siswa secara tak langsung belajar berempati. Belajar bagaimana sebuah plot cerita bekerja, dari prolog, konflik, resolusi hingga penyelesaiannya yang lazim dan masuk akal. Dengan cara menyenangkan siswa belajar memecahkan masalah (problem solving).

Pembaca karya sastra melakukan perjalanan ke masa lampau maupun ke masa depan – menembus segala batas, mengunjungi tempat, waktu, dan budaya yang tidak pernah diketahui sebelumnya, mengenal beraneka karakter manusia lengkap dengan keunikan masalahnya. Karya sastra sungguh-sungguh memperkaya pengalaman, lebih dari yang kita duga.

Sayang sekali kalau anak-anak muda kita mengabaikan keajaiban-keajaiban yang ditawarkan oleh karya sastra.

Nah, mari kita nantikan Iqbaal Ramadhan yang tengah diamanati untuk menjembatani gagasan besar sastra Pram melalui gaya artikulasi anak muda abad ke-21. Di tengah protes sebagian penggemar Pram terhadap pemilihan Iqbaal sebagai pameran Minke,  saya sungguh berharap semoga dengan itu anak-anak kita mulai tersengat racun sastra.

Dan kemudian jatuh cinta. Kepada sastra.

 

Minggu, 28-07-2019

Pabila Kau Menua

Pabila, entah waktunya
kau menua, lusuh, wajah berkerut
ngelangut terkantuk ditemani bara perapian
dan temaram lampu ruangan,
ambil catatan ini

baca perlahan sambil khayalkan tatapan lembut
yang dahulu milik coklat matamu juga
berpijaran, berlekuk begitu dalam

ketika kita berdua menjadi pusat semesta
segala benda, partikel bahkan zarah paling kecil
berhenti bergerak
hilang jarak-jarak

ketika pandang hening bening
pergi suara-suara
hanya serbu wangi napas dan gemetar udara

ketika rindu mengelopak mengembanglah sayap
terbang menggoda puncak-puncak gunung
lalu menenggelamkan hasratnya di antara
belantara bintang-bintang

lesat letup
menjelma kembang api

 

@28062019

Si Banjir

SUDAH DERAS HUJANNYA. Membuat Yunus bersungut. Aku terlambat, keluhnya. Gara-gara salah satu ban gerobak bocor dan harus ditambal. Atau hujan yang tak sabar ingin segera menjatuhkan diri. Mengapa harus seketika tercurah dengan sangat deras. Mengapa tidak menunggu sampai aku pulang dan bersiap-siap.

Diparkirnya begitu saja gerobak buryam di depan rumah. Biar nanti Esih yang mengurus. Yunus meninggalkan teras yang sudah mulai terkepung air. Genangan pada lorong menuju jalan aspal sudah semata kaki. Sebentar lagi air akan menerobos masuk ke dalam rumahnya. Yunus bergegas ke arah timur menuju saluran Cipadu. Galah bambu panjang di tangan kirinya. Topi caping menutupi kepalanya.

Harus cepat-cepat.

Paras jalan mulai tertutup air hujan. Sampah daunan, ranting, plastik bungkus makanan tercampak di atasnya, tak berdaya tergusur-gusur air. Yunus memunguti sampah yang terserak. Dengan tangannya. Atau mencapit dengan galahnya. Memindahkan ke gundukan di tepian. Dengan gerakan efisien dijejalkannya sampah itu ke mulut karung yang sudah disiapkan.

Air dari kampung atas mulai memenuhi saluran irigasi Cipadu dan menjamah tanggul pembatas. Jilatan-jilatan air mengisyaratkan bencana.

Lelaki kecil paruh baya itu bergeser lebih ke timur. Di depan warung Imas sampah bersekutu pada bilah-bilah bambu jembatan antara jalan dan warung. Tak ada yang membantu. Dua pengunjung warung atau mereka sekedar berteduh, Yunus tidak memperhatikan. Ujang, suami Imas, mengangsurkan sekaki sapu ijuk, mendorong sampah yang membandel pada sudut di bawah jembatan kecil itu. Yunus menjemputi dengan tangannya.

“Pisang gorengnya, Ki,” Kang Ujang menawari. “Hangat.”

Nuhun, Jang,” Yunus menyambar satu, menyumpalkan ke mulut lalu bergegas mengejar iringan sampah yang hanyut meninggalkannnya.

“Dorong saja sampahnya, Ki. Biarkan terhanyut ke tempat lain.”

“Kalau seperti itu, nanti sampah mengumpul di kampung lain,” seru Si Pemungut Sampah. “Bisa banjir di sana.”

Langkahnya menggesa.

Galah bambu menjangkau onggokan sampah di sepanjang saluran. Daunan, keresek toserba, ranting, batang kayu, busa, botol bekas, pakaian, potongan kursi, bantal, mainan anak-anak, ban bekas. Mata Yunus nyalang. Tak satupun sampah boleh masuk ke terowongan air di persimpangan. Di situ semua sampah akan terjebak. Bersatu, menggunung dan berkomplot membendung sama sekali deras aliran air bah keruh kecokelatan. Yunus harus bergerak dari tepian kiri dan meloncat juga ke kanan. Menyodokkan galah ke bawah terowongan. Sesekali mengomel. Tak habis pikir dengan sampah yang tak juga mau berkurang.

Harus hati-hati. Tebing sangat licin, sedangkan tanggul mulai samar di bawah permukaan air.

“Ki Yunus,” seru seseorang, “mulai banjir di Cimalati,”

Yunus mendongak. Itu Kang Sobirin.

“Ada orang lain di sana. Biarlah aku bersihkan di sini saja,” teriak Yunus.

“Aku lapor Kang Ridwan RT, ya Ki,” seru Kang Sobirin.

“Tidak usah, Kang. Aku kerjakan sendiri saja.”

Yunus melanjutkan mengail sampah. Galah bambu menari-nari di sepanjang saluran. Bergeser semakin jauh dari rumahnya. Semoga Esih tidak terlambat memindahkan barang-barang.

Sekarang tanggul pembatas sudah benar-benar menghilang di bawah paras air. Tak kentara lagi mana jalan aspal dan mana selokan. Kutukan hujan sore itu menyihir kampung menjadi sebuah lautan. Cairan cokelat berlarian deras. Menghambur. Menyerbu ke segala arah.

Yunus menghela napas. Aku sudah berusaha. Semoga tidak semakin besar dan membawa mala.

Dan hujan belum juga reda.

Nyaris Yunus memutuskan untuk pulang. Tunggu. Ekor matanya menemukan sesuatu. Sesosok manusia. Benarkah? Matanya belum terlalu rabun. Penglihatannya memusat ke kelokan jalan, ujung saluran irigasi. Dia memicingkan mata. Sambaran kilat. Di bawah pohon mahoni besar, pada tepian tanggul di balik rapat tirai air hujan tampak seorang anak berjongkok memeluk kedua lututnya..

Tanpa iba tetes hujan mengetuki tempurung kepala bocah itu. Seluruh tubuh mungilnya diguyur hujan. Kuyup. Pakaiannya mengucurkan air. Bocah itu menggigil. Bahunya bergetar hebat. Menangis.

Yunus menoleh ke segala arah. Mencari-cari. Tak ada orang lain di sekitar situ.

“Ayo, ikut Aki.” Yunus mengulurkan tangannya.

Bocah itu tak mampu menjawab. Menggeleng-geleng. Geletar biru bibirnya tak mau berhenti. Muka tirusnya pucat kedinginan. Sangat pucat.

Yunus meraih si bocah ke dalam lengannya, memangkunya. Membopongnya dengan hati-hati. Dipindahkannya caping ke atas kepala si bocah. Membiarkan dirinya sendiri dipatuki air hujan.

Bocah kecil itu tak kuasa menolak.

Galah bambu tercampak entah ke mana.

“Banjirrr. Banjirrr.”

Langkah Yunus terjeda oleh gumam bocah. Memeluk temuannya itu lebih lekap. Bergegas menuju rumahnya. Setengah berlari. Berlompatan bagai katak di tengah terjangan air bah.

***

 

Benar saja, bagian dalam rumahnya sudah digenangi air.

“Ya Allah, Kang.” Esih terperanjat.

“Air panas, Sih.”

Yunus menurunkan bocah itu. Menanggalkan seluruh pakaiannya. Dengan sigap meraih handuk dari tangan Esih dan mengeringkan seluruh tubuh si kecil yang ternyata berlumur lumpur. Bocah itu belum berhenti menangis.

Esih menjerang air.

“Siapa yang Akang bawa?”

Yunus memaksakan sesendok demi sesendok cairan kopi panas ke mulut si kecil. Anak itu minum dengan tubuh tetap bergetar hebat. Esih memandikan anak itu. Suaminya berlari ke rumah sebelah. Bu Kokom memberi Yunus dua stel baju anak-anak. Kebesaran buat anak yang belum cukup umur masuk SD.

Masih saja mulut kecil itu menggumamkan “banjirr, banjirr”.

“Anak siapa ini, Kang?”

“Anak kita, Sih.”

“Siapa namanya?”

“Tidak tahu Akang.”

Esih memberinya makan. Masih ada sisa bubur ayam di panci gerobak suami. Minumnya teh hangat. Tak banyak suapan tapi dia mulai tenang. Tidak lagi mengigau. Bocah itu dibaringkan di dipan dan diberi selimut. Punggung, dada dan perutnya dibaluri minyak bercampur irisan bawang merah. Juga minyak kayu putih. Dan mulai tertidur.

“Namanya Banjir,” bisik Yunus.

Esih yang sedang merapikan perabotan terkaget. “Huss. Akang tidak boleh sembarangan ngasih nama. Nanti orang tuanya marah.”

“Aku orang tuanya, Sih.”

Perempuan itu tergugu. Kembali menekuni kain pel. Mengeringkan lantai semen sisa paparan banjir. Untunglah, semalam hanya beberapa centi genangan di dalam.

Hampir setiap lima menit Yunus menengoki dipan. Gelisah sekali tidurnya bocah saluran irigasi itu. Membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Mengigau. “Bapa, Bapa.”

Yunus mendekat. Duduk di pinggiran tempat tidur. Mengamati. Menepuk-nepuk pelan bokong si bocah. Berusaha menenangkan. Mengusap dahinya – hangat. Meminta Esih menyiapkan kompres. Membenahi selimut. Berbaring di sebelah anak itu. Memberi kehangatan.

Nyaman sekali mata Esih memandangi bocah berbaring berdampingan dengan lelakinya yang mulai ubanan.

“Kang, dia memanggilmu Bapa.”

“Iya. Aku bapaknya.”

“Kita punya anak, Kang. Alhamdulillah.”

Yunus mengatupkan matanya. Meniru lelapnya Si Banjir.

“Jangan lupa besok kamu belikan anakku baju,” gumamnya, tetap memejam. “Yang bagus-bagus.”

“Iya, Kang. Aku masih punya sedikit tabungan. Buat anak kamu.”

Esih menepuk-nepuk pipi suaminya. Ada rasa haru mengalir menggelombang bersama udara kamar.

Selepas Isya hujan mereda. Bertudung daun pisang, Yunus dan Esih membawa Si Banjir ke rumah Bidan Dewi. Diperiksa dengan cepat tapi teliti. Panas tinggi. Bidan Dewi tidak bersedia memberikan suntikan. “Istirahatkan saja, Ki. Tidurkan. Minumkan obatnya.”

Yunus menggendong pulang Si Banjir. Menidurkannya dengan tembang dan solawatan. Tak mau lepas, Si Banjir memeluk erat Si Pemungut Sampah. Mendesiskan “Bapa, Bapa”.

“Iya. Ini Bapak, Nak. Tidur, ya.”

Reaksi obat hanya bertahan tiga jam.

Si Banjir makin panas. Disertai buang air, sedikit tapi berkali-kali. Setengah jam sekali. Sepanjang malam Yunus tidak tidur. Mengompres lagi si Banjir. Memberinya minum. Membersihkan bekas ngompol dan buang airnya. Mengganti alas tidur. Menidurkannya tanpa celana. Membaluri perutnya dengan minyak kelapa campur irisan bawang merah dan daun cabe. Memberinya minum. Membisikkan solawat Yaa Nabi ke telinganya.

“Cepat sembuh, Nak. Sehat. Cepat besar. Bapak antar kamu ke sekolah nanti, ya. Kamu belajar di kelas. Bapak jualan bubur ayam di halaman sekolah.”

Esih menemani.

“Kamu harus sekolah tinggi, Nak. Harus punya cita-cita tinggi. Bapak janji bakal lebih rajin jualan. Buat biaya sekolah kamu. Buat masa depan kamu.”

Rintik. Langit berkeluh kesah.

Sempat terbangun tengah malam. Si Banjir minta dipangku. Yunus mengayun ambing anak itu. Dengan bantuan kain panjang. Sampai bocah itu lelap dalam buaian. Geletar bibirnya mendesiskan igauan. Yunus membalas dengan bisikan solawat. Punggung tangan mengecek dahi Si Banjir. Esih tak boleh menggantikan. Sampai Subuh tiba.

Fajar rebak ketika Si Pemungut Sampah masih melangitkan doa-doa lebih panjang dari biasanya. Memanjatkan syukur atas anugerah anak dari Yang Mahakuasa. Atas kasih sayang dan pertolongan-Nya meredakan hujan. Atas kehendak-Nya menjauhkan bencana. Dan memohon tetes-tetes mukjizat kesembuhan bagi Si Banjir. Anaknya.

Menangis dalam diam.

***

 

Jam 5 pagi Yunus tergopoh menggedor pintu rumah Bidan Dewi. Tak ada jawaban. Gugup mengintip lewat jendela. Bidan Dewi tidak ada. Mengungsi ke kampung atas. Pasti menghindari banjir susulan.

Pagi itu hujan tidak turun. Hanya gulungan mendung ketika Si Banjir akhirnya tak tertolong.

“Anakku meninggal, Kang,” kata Yunus melapor kepada Kang Ridwan, RT.

“Anak siapa? Dari mana kamu menemukan anak ini, Ki?”

“Gusti Allah yang mengirimnya.”

Seseorang berbisik, “Kita harus memberi tahu orang tuanya, Kang RT.”

“Ke mana kita mencari orang tuanya?”

“Bukankah dia anak Ki Yunus?”

“Mana mungkin setua mereka bisa punya anak?”

“Lebih baik kita segera menguburkan anak ini.”

Dibantu beberapa tetangga Esih menyiapkan segala persiapan untuk penguburan Si Banjir. Kain mori putih. Bunga-bunga. Papan-papan untuk lahat. Nisan sederhana. Yunus lebih banyak bersimpuh di sisi bocah kecil malang itu, terbata membisikkan ayat-ayat suci. Tiap sebentar mengusapi muka si mayat. Sambil mengisak.

Lancang mengharap ‘jangan pergi, Nak. Jangan pergi. Bapak jangan ditinggal’.

Matahari mengintip di atas ubun-ubun ketika Yunus dan Esih selesai menguburkan anaknya. Si Banjir.

***

 

Dari balik batang kamboja berbunga putih-putih seorang lelaki tua tak dikenal berdiri gentar. Menatap tak berkedip. Mengikuti setiap menit prosesi penguburan. Tak mampu bersuara. Hanya menabahkan diri sebisanya. Berusaha mengikhlaskan si Banjir meninggal. Ya, namanya Si Banjir, seperti terdengar dari bisik orang-orang di sekitar pekuburan.

Banjir. Bukan Asep, anak kecilnya yang hilang terhanyut banjir saluran Cipadu dua hari yang lalu.

Gugur kelopak kamboja.

*****

 

 

@06052019

Biarkan Siswa yang Mengajar

809fff66b75af94cfb33256c64dde65b

 

Saya kesengsem mengajar. Juga belajar.

Tapi momen paling luar biasa bagi saya adalah ketika siswa mengajari saya.

Tantangannya adalah bergeser mundur, mengendurkan kendali. Berhenti mengoceh. Mulailah pasang telinga. Mendengarkan. Ubah pemaknaan konsep guru dan siswa. Lihatlah, sebenarnya kedua peran tersebut tidaklah terpisah atau secara diametral berbeda. Sudah semestinya guru benar-benar menguasai materi yang disampaikan. Dia harus terlebih dulu mempelajarinya. Saat mengajar, guru berusaha menginternalisasi siswa dengan materi pembelajaran yang sebelumnya masih superfisial, teks bisu. Dengan memberi siswa keleluasaan dan dukungan untuk merasuki peran guru, saya yakin mereka akan lebih belajar.

Kelas harus bertransformasi dari kelas dengan guru mengajar dan siswa belajar menjadi siswa mengajar dan semua orang belajar.

Gali lebih dalam tentang siswa Anda

Kenali siswa dan kehidupan mereka, Mulailah menyapa, mengobrol dan sepenuhnya mendengarkan mereka. Anda mungkin mencuriga seorang siswa sedang menatap marah dari belakang kelas dan membenci kelasnya. Kemudian Anda akan terkaget ketika ternyata siswa tersebut tengah menyekap masalah di dalam dadanya, sesuatu yang membuatnya sedih. Atau, bisa saja, wajahnya itu sebenarnya adalah wajah yang tengah sungguh-sungguh berkonsentrasi. Dan bukan memancarkan permusuhan. Cari tahu mengapa wajahnya seperti itu. Jangan sebaliknya, tersinggung dengan wajah itu.

Tiap tahun para siswa mengajari saya nilai-nilai sebagai manusia. Saya merangkum pemahaman yang semakin dalam tentang betapa kompleksnya kehidupan kita. Dan betapa merusaknya bila berburuk sangka. Sebagian besar prasangka membuat saya tersinggung, misalnya siswa ketiduran, tidak menyelesaikan PR, tidak hadir di kelas, tidak mau terlibat dengan kelasnya, atau aneka masalah lain yang terjadi di luar kelas. Hal-hal seperti ini, mau tidak mau, menerbitkan kepenasaran: mengapa terjadi dan apa solusinya?

Saya ingat Tegar, siswa saya yang unggul dalam speaking, tiba-tiba menghilang dari kelas. Dugaan saya dia jenuh, tidak menyukai aktivitas kelas, kelasnya tidak sesuai dengan tingkat kemampuannya. Ketika akhirnya Tegar muncul, saya mengajaknya ngobrol seusai pembelajaran. Tegar, boleh Bapak tahu kenapa kamu menghilang? Dia bercerita panjang. Saya mendengarkan dengan sabar. Ternyata dia tengah memerangi depresi yang membuatnya sulit bangun pagi. Anak itu juga mengenalkan saya kepada ibu angkatnya. Saya jadi punya akses untuk mengeceknya dan mendorongnya untuk kembali hadir di kelas. Masalah tidak menghilang namun mulai mereda. Saya temukan cara untuk mendampinginya mengatasi depresi dan berhenti melabelinya pemalas.

Mengetahui pengalaman hidup siswa memudahkan guru dalam memahami, menerima dan berempati. Bahkan menyelami dunia siswa secara menyeluruh. Menginsafi ragam jungkir balik sikap dan perilaku aneh remaja, mengenal budaya lokal tempat siswa tinggal dan keunikan tradisinya. Ternyata setiap siswa punya keunikan kebiasaan, tata nilai dan badai masalah yang tak pernah sama.

Saling mengenal adalah fondasi bagi hubungan yang lebih interaktif. Jangan-jangan guru keliru menyebut nama siswa di kelas. Yang sebenarnya Maya, Anda panggil dengan Nadya.

Coba bayangkan reaksi mereka.

Biarkan siswa membagikan pengetahuannya

Selain kemampuan mereka dalam speaking dan writing, saya kerap dibikin terkaget dengan hal-hal lain. Pernah siswa saya mempresentasikan resep tradisional yang belum pernah saya cicipi, membuat lukisan yang nyaris layak masuk pameran seni, menyanyikan lagu Michael Buble, menemukan kata baru dan menyelesaikan teks prosedur di atas level kelasnya. Bahkan antusias sekali membagikan pengetahuan mereka kepada saya. Nah, saya tinggal merevisi skenario pembelajaran agar mereka punya ruang untuk memeragakannya.

Guru sering berusaha mengkreasi pembelajaran yang melibatkan kita semua. Orang cenderung senang membicarakan apa yang mereka sukai, ketahui dan kuasai. Dan ini berbeda bagi setiap orang. Mintalah siswa untuk saling berbagi tentang sesuatu yang mereka sukai. Dengan begitu, Anda dapat merancang pembelajaran individualis meskipun mereka mengerjakan topik yang sama.

Atau beri mereka daftar pilihan tugas. Misalnya, ketika meminta respon atas sebuah teks naratif pendek yang baru saja mereka baca, jangan minta mereka melakukan hal yang sama. Biarkan mereka memilih format tanggapannya: membuat video, menciptakan karya seni, memparafrase teks, menyusun reviu, menggambar ilustrasi, mendramakannya, menyanyikan sebuah lagu, menulis puisi atau bentuk lainnya. Lihatlah, kelas jadi lebih hidup, berisik, meriah dan menyenangkan. Daftar menu bisa menjadi trik yang luar biasa. Tiap siswa bebas mengerjakan sesuatu yang berbeda, menunjukkan potensi unik dirinya. Dan mereka merasa berharga.

Efektifkah cara Anda mengajar? Tanya siswa

Tak banyak siswa yang mau menemui guru dan mengatakan “Pak, Dina benci kegiatan ini.” atau “Bu, Agung suka sekali kegiatan ini.”. Siswa cenderung menyembunyikan pendapat mereka atau mengeluhkannya di luar kelas. Jauh dari tangkapan telinga guru. Kalau cukup jeli, guru mestinya bisa menguping bahan dan kegiatan apa yang melibatkan dan diminati siswa.

Biasanya guru meminta umpan balik siswa pada akhir semester. Hmm, sudah terlambat untuk melakukan perbaikan. Kuesioner umpan balik dibagikan pada lima menit terakhir. Pada saat tersebut guru sudah kebelet meninggalkan kelas untuk urusan lain. Jarang sekali guru merespon kuesioner ini dengan lengkap, dan – begitu pula – jawaban dari siswa pun asal-asalan.

Saran saya, guru meminta pendapat siswa pada sepertiga awal semester. Mintalah mereka menuliskan seberapa menyenangkan aktivitas dan bahan tertentu di kelas mereka. Kegiatan mana yang membantu mereka mencapai tujuan belajar. Lalu aturlah mereka berbagi pendapat dalam kelompok-kelompok kecil. Biarkan mereka merasa percaya diri dalam menyuarakan pendapat.

Berbagi pendapat dalam kelompok besar manfaatnya. Selain berpeluang untuk menyetujui atau menolak pendapat, siswa merasa dirinya penting dan merasa didengarkan. Kadang siswa merasa berbagi pendapat dalam kelompok besar terasa canggung dan menakutkan. Sebagai siswa, saya juga dulu merasa malu dan jarang “berbunyi” dalam diskusi. Guru perlu meyakinkan siswa bahwa suara mereka berharga. Untuk teman-temannya. Juga untuk gurunya.

Biarkan sebagian peranan guru mereka ambil. Biarkan siswa merampok kelas, membajak pembelajaran. Bebaskan siswa menjelaskan, mengeksplorasi pengetahuan, memeragakan capaian keterampilan dan bersama-sama merayakan keunggulan mereka. Bayangkan, guru ngacung, bertanya dan siswa kasih penjelasan. Dengan kepercayaan diri yang meluap-luap siswa mempresentasikan pencapaian hebat mereka.

Bukankah pekerjaan guru menjadi lebih ringan? Lebih dari itu, lihatlah, mereka lebih antusias.

Biarkan Mega, Kayla atau Budi mengajar. Pada saatnya nanti, tanpa disadari, kita telah belajar banyak dari siswa.

 

 

#belajarnulisartikel